BIDIKFAKTA – Pernyataan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, alumnus Serjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan Master of Science of Policy Economics tahun-1990 University of Illinois at Urbana-Champaign yang menyebut bahwa “guru adalah beban negara” menuai kritik tajam dari para tenaga pendidik, termasuk dari wilayah timur indonesia.
Salah satunya datang dari Said Jumat, S.Pd, guru honorer mata pelajaran Sejarah Indonesia (SI) dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di SMK Perikanan Global Pratama, Desa Dowora, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.
Said dengan tegas menanggapi pernyataan Sri Mulyani yang dinilainya tidak hanya menyinggung, tetapi juga melukai hati jutaan guru di tanah air ini, terutama mereka yang selama ini berjuang dalam keterbatasan tanpa status ASN dan dengan honor minim.
“Yang menjadi beban negara bukan guru, tapi mereka yang tidak pernah melihat dan menghargai jasa guru, seperti Menteri Keuangan itu sendiri,” ujar Said kepada media, Selasa (19/8/25).
Said menegaskan bahwa profesi guru memiliki kontribusi langsung terhadap pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa peran guru telah diakui secara nasional sejak ditetapkannya Hari Guru Nasional melalui Keppres Nomor 78 Tahun 1994.
“Guru menciptakan manusia hebat. Presiden, gubernur, anggota DPR, hingga pejabat kementerian. Tidak ada pejabat yang tak pernah diajar oleh guru,” ucapnya.
Ia juga mengkritik keras sikap negara yang selama ini dinilai ambivalen terhadap kesejahteraan guru honorer, khususnya di pelosok dan sekolah swasta yang jarang tersentuh bantuan langsung pemerintah.
“Kami dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa, tapi kini malah disebut beban negara? Sangat menyakitkan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Said berharap agar Sri Mulyani segera mengklarifikasi pernyataannya dan pemerintah pusat lebih bijak dalam mengapresiasi perjuangan para guru, terutama yang mengabdi di wilayah tertinggal dan terluar.
“Pendidikan adalah pondasi bangsa. Jika guru terus dipandang sebelah mata, jangan salahkan jika mutu generasi ke depan ikut hancur,” pungkasnya.