Kesadaran Diri

OLEH: Mohtar Umasugi

BIDIKFAKTA – Dalam kehidupan sosial, kita sering menjumpai orang-orang yang dihormati bukan karena jabatan atau posisi yang mereka sandang, tetapi karena keluhuran budi, kehalusan tingkah laku, serta perangai yang menyejukkan. Penghargaan sejati lahir dari akhlak dan integritas, bukan dari pangkat ataupun kursi kekuasaan yang sifatnya sementara. Jabatan bisa diberikan, diwariskan, atau bahkan dipinjamkan, tetapi karakter adalah hasil tempa diri yang tidak bisa dibeli.

Bacaan Lainnya

Namun, dalam dinamika relasi sosial—lebih-lebih ketika bersinggungan dengan arena kekuasaan—kita juga mendapati individu yang terjebak dalam ilusinya sendiri. Ia merasa hebat, merasa berpengaruh, bahkan menuntut dihargai oleh orang lain, padahal secara substantif ia bukan siapa-siapa. Ia hanya bagian paling kecil dari struktur kekuasaan, sekadar mengikuti arus dan bukan penentu arah. Sering kali, orang seperti ini tidak menyadari bahwa penghargaan yang ia minta justru menghilang ketika sikapnya sarat kesombongan dan haus pengakuan.

Fenomena ini muncul karena rendahnya self-awareness. Ketika seseorang tidak mampu melihat dirinya dengan jernih—apa perannya, batas kemampuannya, dan sejauh mana posisinya dalam sistem kekuasaan—maka ia mudah terseret ke dalam sikap merasa lebih dari yang lain. Ia lupa bahwa kekuasaan itu luas, terdiri atas banyak unsur dan aktor, dan dirinya hanya salah satu titik kecil di dalamnya. Bahkan, tidak jarang ia hanyalah “ _tumpangan kekuasaan_ ”—ikut berpengaruh karena kedekatan, bukan karena kapasitas.

Kesadaran diri menjadi penting agar seseorang tidak terperosok dalam kesombongan yang memalukan. Orang yang benar-benar dihormati adalah mereka yang tidak pernah meminta dihargai; justru kerendahan hatinya yang membuat orang lain secara sukarela memberikan hormat. Sebaliknya, orang yang menuntut penghargaan justru sedang menunjukkan kelemahan batinnya sendiri.

Pada akhirnya, inti dari hubungan sosial adalah integritas dan perilaku. Kekuasaan tidak pernah abadi, tetapi budi pekerti menetapkan warisan yang jauh lebih panjang. Mereka yang mampu mengenali dirinya, memahami batasnya, dan tetap rendah hati meski berada dekat dengan lingkar kekuasaan—itulah orang-orang yang akan diingat, dihargai, dan dijadikan teladan oleh generasi berikutnya. Kesadaran diri adalah kunci agar kita tidak tersesat oleh bayang-bayang kekuasaan yang semu.

Pos terkait