BIDIKFAKTA – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Maluku Utara, resmi membuka pembekalan Kuliah Kerja Lapangan Integratif Berbasis Riset (KKLI-BR) Tahun 2026 di Auditorium STAI Babussalam Sula, Senin (5/10/2026).
Pembekalan tersebut diikuti mahasiswa peserta KKLI-BR sebagai persiapan sebelum terjun ke masyarakat. Materi pembekalan mencakup mekanisme pelaksanaan, etika, pendekatan penelitian, serta pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan dihadiri Ketua STAI Babussalam Sula Dr. Sahrul Takim, Kabag Administrasi Rustam Tidore, S.Pd.I., M.Pd.I., Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Sahbudin Lumbessy, S.Pd.I., M.Ag., Ketua Panitia KKLI Saman Fokaaya, M.Si., dosen, dan mahasiswa peserta KKLI-BR 2026.
Dalam sambutannya, Dr. Sahrul Takim menegaskan bahwa KKLI-BR tidak boleh sekadar menjadi kewajiban akademik. Menurutnya, kegiatan tersebut harus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori di kampus dengan realitas serta kebutuhan masyarakat.
“KKLI bukanlah kegiatan untuk sekadar menggugurkan kewajiban akademik. KKLI adalah ruang pembelajaran yang sesungguhnya, karena di sana mahasiswa mempertemukan teori yang dipelajari di ruang kelas dengan realitas kehidupan masyarakat,” ujar Sahrul.
Ia meminta mahasiswa menjadikan lokasi KKLI sebagai laboratorium sosial dengan mengamati, mengidentifikasi, dan mengkaji berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
Mahasiswa juga didorong tidak hanya mencatat apa yang terjadi, tetapi menggali penyebab, dampak, serta kemungkinan solusi berdasarkan data dan hasil penelitian.
“Kita ingin membangun tradisi akademik yang menjadikan masyarakat bukan sekadar objek kegiatan, tetapi juga sumber pembelajaran dan pengetahuan. Setiap lokasi KKLI sesungguhnya adalah laboratorium sosial,” katanya.
Dr. Sahrul juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga etika, sopan santun, kedisiplinan, integritas, dan komunikasi selama berada di lapangan. Sebab, mahasiswa membawa nama baik almamater dalam setiap aktivitas KKLI.
“Belajarlah mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan meneliti sebelum menyimpulkan. Inilah karakter seorang akademisi,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan KKLI tidak hanya diukur dari penyelesaian laporan akademik, tetapi juga dari manfaat yang diberikan mahasiswa kepada masyarakat.
“Datanglah dengan ilmu, pulanglah meninggalkan manfaat. Jika belum mampu memberikan solusi besar, berikanlah perhatian yang tulus. Jika belum mampu melakukan perubahan besar, mulailah dari perubahan kecil yang dapat dirasakan masyarakat,” pesannya.
Selain riset dan pengabdian, KKLI dinilai menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Mereka akan menghadapi berbagai dinamika masyarakat yang membutuhkan kemampuan beradaptasi, bekerja sama, berkomunikasi, serta menghargai perbedaan.
“Pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang beradab, berintegritas, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Dr. Sahrul berharap mahasiswa dapat menyelesaikan KKLI dengan membawa pengalaman, pengetahuan, dan kepedulian sosial yang lebih kuat.
“Kampus memberikan kita ilmu, masyarakat memberikan kita pengalaman, dan pengabdian mengajarkan kita makna dari ilmu itu sendiri. Jadikan KKLI tahun 2026 sebagai perjalanan akademik untuk belajar, memahami, dan memberi manfaat,” pungkasnya.
Melalui pembekalan tersebut, STAI Babussalam Sula berharap mahasiswa KKLI-BR 2026 mampu melaksanakan riset dan pengabdian secara profesional serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Belajarlah dari masyarakat, telitilah realitas, hadirkan solusi, dan pulanglah membawa perubahan.”
