Penulis: Ahkam Kurniawan B. ( Jurnalis )
BIDIKFAKTA – Jadi jurnalis itu kerja yang penuh luka, diam-diam dalam hati. Katong belajar sayang kenyataan, biar kadang pahit, kadang kasar, dan kadang bikin seng masuk akal. Katong lari ke suara-suara yang su hilang di balik tirai politik, di lorong korban, di tenda bencana, dan di ruang pengadilan yang dingin dan suram.
Beta tulis luka orang lain dengan rapi, kasih naik di berita, biar dunia bisa baca, lalu lupa. Tapi seng semua orang bisa sayang jurnalis. Katong biasa datang terlambat. Biasa sibuk deng suara-suara di luar, sampai pesan dari orang yang katong sayang, jadi hal yang ditunda-tunda. Katong pulang bawa capek, kadang trauma, deng tubuh yang cuma mau tidur, bukan bicara.
Akhirnya, katong ditinggal juga. Beta pernah sayang satu orang yang bilang dia sayang beta. Dia tahu beta biasa lupa waktu, lebih peduli isi kepala dari pada isi dompet. Dia tahu beta hidup di antara kode etik dan nurani, bukan di tempat nyaman yang gampang dimengerti.
Tapi dia tetap pergi. Bukan karna beta berubah. Tapi karna dia bilang “Beta capek. Se lebih peduli berita dari pada beta. Beta seng mau terus-terus jadi yang terakhir.”
Dan yang paling sakit, bukan karna dia pergi. Tapi karna setelah semua yang beta jaga, beta cuma jadi berita murah di dia pung cerita yang baru.
“Dia jurnalis, sibuk, idealis. Tapi seng punya waktu deng uang “kasihan”!
Kata kasihan itu macam peluru, manis di mulut, tapi tembak langsung ke dada. Sekarang cerita tentang katong su jadi setengah pahit yang dia bagi ke dia teman-teman.
Padahal seng ada yang tahu, beta tulis berita di atas air mata. Beta kasi kabar ke dunia dengan dada sesak yang seng pernah punya tempat untuk sandar.
Cinta jurnalis itu, seng mewah. Seng penuh glamor. Tapi waktu katong sayang, katong sayang pake seluruh hati. Karna katong tahu dunia ini terlalu cepat berubah untuk cinta yang seng dijaga sungguh-sungguh.
Di mata orang, beta cuma “wartawan yang terlalu sibuk. Tapi di hati, beta cuma satu orang yang gagal jaga satu nama yang selalu beta sebut dalam doa dan di ujung pena setiap berita-berita murah dan kekuasaan.
Sekarang mungkin dia bahagia, seng perlu lagi tunggu di malam panjang. Tapi beta masih tetap menulis. Masih terus cari suara-suara kecil yang dunia biasa seng peduli.
Dan dari semua suara itu, ada satu yang paling sunyi. Suara cinta yang beta tulis dalam diam, dan sekarang cuma jadi berita yang seng pernah terbit.