OPINI– JAYABAKA, sudah menulis di lembar zaman, akan tiba masa goro-goro, saat serigala berkepala manusia memakai jubah pahlawan dan rakyat dipaksa bertepuk tangan, itulah masa kita sekarang.
KURAWA, berbaris di kursi kekuasaan, menyebut diri wakil rakyat tapi tak pernah benar-benar mewakili rakyat. Mereka berpidato tentang persatuan sambil menandatangani kontrak penjualan bangsa.
Laut dijual, hutan dibabat, tanah digadaikan. Rakyat dibungkam dengan janji subsidi, sementara istana mereka makin tinggi dan perut mereka tak pernah lapar.
PANDAWA, tidak lagi sekadar lima ksatria, mereka adalah para petani yang tanahnya dirampas, buruh yang upahnya dipotong, mahasiswa yang diintimidasi, dan rakyat kecil yang berani berkata “Cukup sudah”!
GORO-GORO, bukan perang fisik semata, ia adalah pertempuran melawan kebohongan, melawan undang-undang pesanan, melawan wajah-wajah licik yang tersenyum saat menghancurkan masa depan.
Panah ARJUNA, hari ini bisa berupa kata-kata, bisa berupa solidaritas, bisa berupa aksi massa di jalanan. Sebab, JAYABAKA berpesan, pengkhianat akan kalah bukan oleh peluru, tetapi oleh kesadaran rakyat yang tak bisa lagi dibeli.
Dan ketika tirai GORO-GORO ditutup, hanya ada dua nama yang tertinggal di sejarah, PANDAWA, pejuang yang berdiri dipihak rakyat, dan KURAWA, pengkhianat yang terhapus dari doa anak cucu bangsa.
Penulis: Fandi Upara (Aktivis GMNI)