STAI Babussalam Sula Maluku Utara : Pintu Peradaban dan Mobilitas Sosial Masyarakat Sula

Mohtar Umasugi_Akademisi STAI Babussalam Sula (Istimewa)

BIDIKFAKTA – Ketika berbicara tentang pembangunan manusia di daerah kepulauan, salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan akses pendidikan tinggi. Banyak anak muda yang harus memilih antara tetap tinggal di daerah dengan keterbatasan peluang, atau pergi merantau dengan segala risiko sosial dan ekonomi. Dalam konteks ini, kehadiran Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula Maluku Utara menjadi sangat penting. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pintu peradaban dan jalur nyata mobilitas sosial bagi masyarakat Sula.

Sejak berdirinya, STAI Babussalam telah meneguhkan peran sebagai pusat pengembangan intelektual berbasis nilai Islam. Kampus ini bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran peradaban. Mahasiswa ditempa tidak hanya dengan teori keislaman, tetapi juga dengan dialektika antara teks dan konteks: bagaimana ajaran Islam dapat diterapkan dalam realitas sosial kepulauan.

Bacaan Lainnya

Dalam kerangka ini, STAI Babussalam menjadi medium peradaban karena:

1. Menjaga Tradisi Ilmu Islam – Kampus melestarikan dan mengembangkan tradisi keilmuan keislaman yang berakar pada nilai-nilai moral dan spiritual.

2. Menghadirkan Diskursus Baru – Dari kelas-kelas sederhana, lahir gagasan tentang Islam transformatif yang berpihak pada keadilan sosial dan pembangunan manusia.

3. Membangun Identitas Lokal-Global – Kampus memberi ruang bagi generasi muda Sula untuk meneguhkan identitas sebagai Muslim Indonesia yang sekaligus bagian dari masyarakat dunia.

Bukti paling nyata dari peran STAI Babussalam adalah kisah alumninya. Tidak sedikit lulusan kampus ini yang berhasil menembus seleksi CPNS maupun PPPK, bahkan menduduki posisi penting dalam dunia pendidikan dan pemerintahan.

1. Seorang alumni angkatan awal, kini menjadi guru tetap di sekolah negeri di Sula. Dulu ia berasal dari keluarga sederhana nelayan, namun berkat kuliah di STAI Babussalam, ia mampu meniti karier hingga menjadi ASN. Baginya, kampus ini adalah jembatan antara cita-cita dan realitas.

2. Alumni lainnya bekerja sebagai penyuluh agama di Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sula. Ia tidak hanya menjalankan tugas formal, tetapi juga aktif dalam kegiatan dakwah sosial di desa-desa, memperkuat kesadaran keagamaan masyarakat.

3. Ada pula alumni yang kini dipercaya sebagai penggerak komunitas pemuda lokal, mendirikan lembaga bimbingan belajar untuk anak-anak Sula, agar mereka bisa lebih siap menghadapi seleksi pendidikan maupun dunia kerja.

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa kampus kecil di kepulauan ternyata mampu melahirkan agen perubahan. Alumni STAI Babussalam bukan hanya mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Keberhasilan alumni dalam berbagai bidang membuktikan bahwa STAI Babussalam menghasilkan bukan hanya kapital akademik, tetapi juga kapital sosial (Bourdieu, 1986). Mereka membawa jaringan, kepercayaan, dan keahlian yang membuat mereka diterima di ruang publik.

Lebih dari itu, kampus ini juga berperan sebagai penggerak mobilitas vertikal—membuka jalan bagi masyarakat kecil untuk naik kelas sosial melalui profesi formal—serta mobilitas horizontal, yaitu memperluas jaringan sosial dan kerja di tingkat komunitas.

Pada akhirnya, STAI Babussalam Sula Maluku Utara tidak bisa hanya dipandang sebagai kampus kecil di pinggiran. Ia adalah pintu peradaban, tempat lahirnya gagasan keislaman yang transformatif, sekaligus jalur mobilitas sosial yang nyata bagi generasi muda Sula.

Dari ruang kelas sederhana, kampus ini melahirkan kisah nyata: seorang anak nelayan menjadi guru ASN, seorang anak desa menjadi penyuluh agama, dan seorang pemuda menjadi penggerak komunitas lokal. Semua ini membuktikan satu hal—pendidikan adalah jalan mengubah nasib, bukan hanya individu, tetapi juga masyarakat.

Dengan demikian, STAI Babussalam tidak sekadar kampus pinggiran, melainkan fondasi peradaban kepulauan Sula, yang menyiapkan generasi masa depan dengan iman, ilmu, dan pengabdian.

Pos terkait