Alumni Jadi Caketum, Aristo: Mahasiwa Aktif Wajib Pimpin PP HPMS di Kongres IV 2026

Foto: Aristo Umasangaji. Istimewa.

BIDIKFAKTA – Menjelang pelaksanaan Kongres ke IV Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) yang dijadwalkan berlangsung pada 11–12 Januari 2026 menampakkan dinamika internal organisasi mahasiswa ini kian memanas. Wacana pencalonan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) HPMS yang berkembang di media sosial justru memunculkan kritik terhadap arah organisasi dan keberlangsungan kaderisasi mahasiswa Sula ini dengan kekhawatiran yang serius.

Aristo Umasangaji, salah satu Kader HPMS Cabang Ternate, menilai bahwa dinamika yang terjadi saat ini menunjukkan adanya pergeseran nilai yang cukup mengkhawatirkan. Menurutnya, HPMS yang sejatinya merupakan wadah kaderisasi mahasiswa justru berpotensi kehilangan jati diri apabila ruang kepemimpinan diambil alih oleh kepentingan di luar mahasiswa aktif.

Bacaan Lainnya

“HPMS adalah rumah kaderisasi mahasiswa Sula. HPMS bukan ruang kompetisi bagi alumni. Jika alumni ikut masuk dalam proses pencalonan Ketua Umum, maka itu sama saja dengan menutup ruang regenerasi dan mematikan proses kaderisasi yang selama ini dibangun,” ujar Aristo, Rabu (7/1/2026).

Ia menekankan bahwa peran alumni seharusnya ditempatkan sebagai penjaga nilai dan pemberi arah moral gerakan, bukan sebagai aktor utama dalam kontestasi struktural organisasi mahasiswa. Keterlibatan alumni secara langsung dalam pencalonan pimpinan, merupakan bentuk penyimpangan dari prinsip dasar organisasi HPMS yang digagas sejak awal sebagai organisasi kemahasiswaan.

Lebih jauh, Aristo mengingatkan bahwa dominasi alumni dalam ruang kongres berpotensi menyeret HPMS ke dalam pusaran kepentingan birokrasi dan kekuasaan lokal. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menggerus independensi organisasi mahasiswa ini sebagai kekuatan kritis dan kontrol sosial.

“Ketika organisasi mahasiswa mulai dikendalikan oleh kepentingan birokrasi atau elite tertentu, maka yang hilang pertama kali adalah keberanian bersikap kritis. HPMS tidak boleh kehilangan roh perjuangannya hanya karena kepentingan segelintir orang,” tegasnya.

Menurut Aristo, Kongres IV HPMS ini  seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan marwah HPMS sebagai ruang kedaulatan mahasiswa Sula. Ia mendesak agar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) diperjelas dan ditegakkan secara tegas, khususnya terkait batas peran alumni dan syarat kepemimpinan di HPMS.

“AD/ART harus menjadi rujukan utama, bukan ditafsirkan secara fleksibel demi meloloskan kepentingan tertentu. Kongres adalah milik mahasiswa, bukan milik alumni, apalagi ditunggak dengan kepentigan kekuasaan,” beber Aristo.

Lelaki yang kini dipercayakan sebagai Ketua Pemuda Desa Capalulu ini juga menegaskan bahwa mahasiswa yang telah mengikuti jenjang kaderisasi harus diberi ruang penuh untuk memimpin dan membawa perubahan di HPMS dan selebihnya bagi Negeri Sula. Tanpa regenerasi yang sehat, HPMS dikhawatirkan akan mengalami stagnasi ide dan kehilangan relevansi sosialnya.

Ia bilang, Kongres IV HPMS kini dipandang sebagai titik krusial penentuan arah organisasi. Apakah HPMS akan tetap setia pada prinsip kaderisasi dan independensi gerakan mahasiswa, atau justru bergeser menjadi organisasi yang dikendalikan oleh kepentingan eksternal.

Karena itu, Aristo mengajak seluruh mahasiswa dan aktivis muda Kepulauan Sula untuk mengambil peran memimpin HPMS dan menolak kepentingan alumni yang akan merusak citra HPMS di momentun Kongres HPMS kali ini.

“Ini bukan sekadar persoalan teknis organisasi, melainkan soal masa depan HPMS dan gerakan mahasiswa Sula itu sendiri,” tutupnya.

Pos terkait