Makna Kongres di Atas KM AlSudais

Oleh: Mohtar Umasugi

BIDIKFAKTA – Pukul 17.30 WIT, Sabtu, 10 Januari 2026, KM AlSudais perlahan keluar dari Pelabuhan Sanana menuju Ternate. Senja menggantung di ufuk barat, cahaya jingga berbaur dengan bayangan malam yang mulai turun. Di geladak kapal, suasana menjadi hening sebuah jeda alamiah yang memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja lebih jujur dan batin untuk menimbang arah. Saya menumpang kapal ini bukan semata untuk berpindah tempat, melainkan memenuhi undangan Panitia Kongres HPMS ke-4, sebuah momentum yang semestinya dimaknai lebih dari sekadar pergantian kepemimpinan organisasi.

Bacaan Lainnya

Senja adalah simbol peralihan. Ia bukan terang yang mapan, tetapi juga belum sepenuhnya gelap. Dalam konteks ini, senja di atas KM AlSudais menjadi metafora kondisi HPMS hari ini: berada di antara romantisme sejarah dan tuntutan masa depan. Kuntowijoyo pernah mengingatkan bahwa sejarah bukan untuk diratapi, melainkan untuk dijadikan kesadaran. Organisasi mahasiswa yang lupa pada kesadaran sejarahnya akan mudah terjebak pada pengulangan tanpa pembaruan, bergerak tetapi tidak melangkah.

Ketika kapal semakin menjauh dari daratan, malam perlahan mengambil alih langit. Lampu-lampu kapal menyala, menandai bahwa perjalanan harus tetap dilanjutkan meski cahaya alami telah hilang. Di sinilah malam menemukan maknanya sebagai simbol tanggung jawab. Ferdinand Tönnies membedakan Gemeinschaft ikatan yang dibangun atas nilai dan rasa kebersamaan dengan Gesellschaft yang cenderung pragmatis dan transaksional. Kongres HPMS berada pada titik krusial: apakah ia dirawat sebagai ruang kebersamaan yang berlandaskan nilai, atau direduksi menjadi arena kepentingan yang kering dari idealisme.

HPMS lahir dari kesadaran kolektif mahasiswa Sula untuk merawat ikatan sosial dan intelektual demi daerah. Karena itu, organisasi ini tidak boleh berubah menjadi sekadar alat distribusi posisi. Kabupaten Kepulauan Sula dan Kabupaten Pulau Taliabu masih menghadapi persoalan pembangunan yang nyata ketimpangan akses, lemahnya tata kelola sumber daya, serta minimnya kontrol publik berbasis nalar kritis. Dalam situasi seperti ini, HPMS dituntut hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual, bukan penonton yang nyaman di pinggir sejarah.

Harapan itu hanya mungkin terwujud jika kongres melahirkan kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa organisasi bukan milik kandidat, bukan milik kelompok, dan bukan pula milik kepentingan sesaat. Nurcholish Madjid Cak Nur pernah menegaskan pentingnya menjadikan organisasi sebagai ruang pembebasan, tempat gagasan tumbuh tanpa dibelenggu oleh simbol dan formalitas kosong. Kongres, dalam semangat ini, semestinya menjadi arena pematangan pikiran, bukan sekadar legitimasi kekuasaan.

KM AlSudais terus membelah laut malam dengan ritme yang tenang namun pasti. Perjalanan ini mengajarkan bahwa sampai ke tujuan tidak selalu harus tergesa-gesa, tetapi harus konsisten pada arah. Analogi ini relevan bagi HPMS. Organisasi yang matang bukan yang paling gaduh dalam forum, melainkan yang paling tekun merawat tradisi intelektual: diskusi yang jujur, kajian berbasis data, dan keberanian menyampaikan kritik secara beradab.

Kongres HPMS ke-4 seharusnya menjadi titik transisi dari euforia menuju kedewasaan, dari simbol menuju substansi. Ia mesti melahirkan rumusan strategis tentang bagaimana HPMS mengawal pembangunan daerah secara berkelanjutan: melalui advokasi kebijakan publik, penguatan kapasitas kader, serta konsistensi menjaga jarak kritis dengan kekuasaan. Bukan relasi transaksional, melainkan relasi etik yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Ketika malam semakin pekat dan suara mesin kapal menjadi latar yang konstan, saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang tiba di Ternate, melainkan tentang menata niat sebelum memasuki ruang kongres. Seperti kapal yang membutuhkan kompas di tengah gelap, HPMS membutuhkan nilai, visi, dan keberanian intelektual agar tidak kehilangan makna.

Makna kongres di atas KM AlSudais, bagi saya, adalah pengingat bahwa organisasi mahasiswa hanya akan hidup jika gagasan tetap menjadi nahkoda. Dari senja menuju malam, dari laut menuju darat, dari kongres menuju kerja nyata semoga HPMS mampu menjawab tantangan zamannya, dan tetap setia mengawal masa depan Sula dan Taliabu dengan nalar, integritas, dan keberpihakan yang jelas.

Pos terkait