Perahu!

Gambar; Ilustrasi (Google).

BIDIKFAKTA – Di laut sula bukan cuma aer asin yang beta dan ose lia tiap hari di bibir pantai. Di laut sula itu ada napas hidup, di situ ada perahu kecil, ada nelayan yang berharap ikan maso jaring.

Tapi sekarang, laut sula su bukan lagi tempat yang tenang. Setiap subuh, beta deng ose bisa lia bagaimana bapa yang turun deng hati berat, bukan kalo ombak tinggi, angin keras, tapi laut so seng jadi tempat hidup.

Bapa sekarang pulang so seng bawa ikan. Hanya bawa lelah deng senyum yang tawar macam laut yang melawan angin.

Ose bisa rasa itu, rasa bagaimana katong harus pasrah, katong harus melawan arus, angin, dan nasib dari tuhan.

Bagi beta, nelayan di sula sekarang melaut bukan cari ikan. Katong cari nasib yang hanyut dibawa arus, disiur angin, dan dihantam aturan. Sekarang ose bisa liat, kapal-kapal asing bagai pelu yang berjalan diatas urat laut menuju sebrang.

Ose orang yang beta harap. Persis doa mama yang kuat menarik beta layar perahu kalo so jauh. Ada harapan, ada rindu, dan ada mata mama pangge pulang beta bawa angin dari kampung.

Sesekali beta ingin pagar laut. Beta ingin ajak ose liat jaring bapa yang masih dapa ikan macam dolo. Ose jua tau, angin itu kompas yang selalu beri hidup par kampung, par nelayan dan ada cerita sekolah disitu.

Namun sekarang, laut sula su jadi saksi. Saksi yang melihat nelayan dan bapa bertaruh nasib, bertaruh nyawa dan melambung ombak-angin malam. Saat waktu itu tiba, beta akan bawa ose melihat laut, melihat burung camar yang indah, dan melihat tiang-tiang perahu kapal asing yang menjulang.

Penulis: A. Retorika

Pos terkait