Mahasiswa Yang Menolak Mati di Penghujung DO!

Jisman Leko, Mahasiswa STAI Babussalam Sula. (Istimewa).

Oleh: Jisman Leko

BIDIKFAKTA – Layar laptop meredup, menyisakan deraf waktu, kalender di dinding berubah jadi dentang belenggu.

Bacaan Lainnya

Surat peringatan itu sudah di ambang pintu,
menagih janji yang terombang-ambing di lautan ragu.

Teman-teman seangkatan telah melepas toga, melangkah jauh, memajang tawa di ruang maya.

Sedangkan aku masih tersangkut di garis prasangka, dikejar bayang “Drop Out” yang siap memangsa.

Ada gelisah yang mengetuk setiap malam,
bayang wajah orang tua dan doa yang mendalam.

Harapan yang mereka titip di pundakku yang legam, tak boleh padam hanya karena jalan yang curam.

Maka kubakar sisa kantuk di pekatnya kafein, kujahit kembali kalimat yang pudar dan terpilin.

Revisi demi revisi bukan lagi belati yang dingin, melainkan batu asah bagi tekad yang terpilin.

Biar waktu mengancam dengan stempel merah, aku menolak tunduk, aku menolak menyerah!

Sebab di balik jemari yang mengetik dengan lelah, ada harga diri yang tak sudi bertekuk lutut pada kalah.

Ini bukan lagi tentang gelar di belakang nama, tapi tentang menuntaskan apa yang dimulai bersama.

Dan di penghujung jurang yang hampir merenggut asa, aku memilih bangkit, melawan, dan percaya.

Orang tua duduk, tanya penuh harap jawaban akhir harus wisuda, sesuai harapan keluarga.

Pos terkait