Penulis: Ahkam Kurniawan, Pimpinan Bidikfakta.id.
BIDIKFAKTA – Di antara kata dan kata, pena selalu punya dua kemungkinan. Kemungkinan menjadi cahaya atau menjadi kabut. Pena jurnalis bisa menyalakan kesadaran publik, tetapi juga dapat mengaburkan kebenaran.
Dalam konteks pers hari ini, pilihan itu tidak lagi sederhana. Dunia jurnalistik berada di titik yang sunyi sekaligus bising. Pena kita mulai kehilangan kedalaman dan kepekaan dari informasi yang perlahan di disinformasi tanpa fakta.
Pers saat ini, kita dituntut lewat kecepatan massa. Kecepatan mentransformasi fakta menjadi berita. Namun kabar tentang pers belakang mulai hilang percaya dari publik, kalau mau dibilang informasi saat ini tidak lagi berjalan, tetapi berlari. Portal berita berlomba menjadi yang pertama, bukan yang paling benar dan judul berita-berita dipoles agar menggoda, isi berita di padatkan agar cepat dibaca dan di tengah kompetisi algoritma ini idealisme sering kali dipaksa bernegosiasi dengan statistik klik yang mendorong pers pada batas kebenaran dan keberanian.
Singkatnya, sudah 6 tahun beta, berkiprah di dunia jurnalistik, dimulai pada tanggal 8 Mei 2020. Dari yang awalnya tidak berani, kaku, dan hampir mengalah, surat tugas liputan media online maluttimes.com memberikan keberanian pada batas akal. Saat itu, beta empat bulan diberikan waktu megang dan hari-hari dari perjalanan singkat menjadi pewarta waktu itu beta hampir mengalah pada keadaan.
Namun, sesekali beta membuka surat tugas yang diberikan beta guru, Bang Dzulfikar Mahdi. Dimasa menjadi wartawan magang, Beta diajarkan banyak hal. Sesuatu yang beta masih ingat sampai hari ini pesan beliau bahwa menajdi wartawan itu bukan hanya tentang kemauan, wartawan itu tentang keberanian. Wartawan itu bukan tentang terkenal dan lalu dilupa, tetapi wartawan adalah keberanian berpikir dan memihak pada yang benar.
Inggat bahwa pers itu tidak digaji, kita berdedikasi untuk kepentingan masyarakat tanpa mengeluh. Harus menjadi pers yang benar-benar pers. Kalimat itu juga adalah pesan terakhir dari beliau bahwa semua wartawan itu hebat, pemikir yang berpendidikan dan tapi tidak semua pers punya keberanian.
Fakta itu mulai terlihat bahwa pers tidak lagi menjadi institusi moral. Kita menganggap profesi pers sekadar medium kabar dan ruang akuntabilitas meskipun mengabaikan fakta dan kebenaran kepada pihak-pihak yang kecil. Dan kalau kita berani berkata jujur, saat ini pers tidak lagi diposisikan sebagai fungsi kontrol sosial dan mata publik terhadap kekuasaan. Saat ini tantangan kita beralih pada tekanan politik dan ekonomi.
Banyak pers hari ini menghadapi dilema eksistensial apakah mempertahankan idealis dengan risiko sepi pembaca, atau mengikuti arus viral dengan risiko kehilangan martabat. Dalam dilema itu, sebagian media memilih jalan tengah dan kita terlihat netral, namun sebenarnya rapuh.
Di situasi itu, beta percaya bahwa pena, pada akhirnya bukan benda mati. Pena adalah simbol tanggung jawab dan setiap kalimat yang ditulis wartawan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan keputusan moral. Menulis berarti memilih, memilih fakta, memilih sudut pandang dan memilih keberanian. Pers yang besar bukan yang tanpa kesalahan, melainkan yang berani mengoreksi diri.
Di antara kata dan kata, sejarah pers sedang ditulis ulang setiap hari. Pertanyaannya bukan pada media akan bertahan, melainkan dalam bentuk apa kita (pers) akan dikenang. Apakah kita menjadi pers sebagai mercusuar yang menerangi kebenaran, atau sebagai gema yang hilang ditelan kebisingan. Pilihan ini tidak ada di tangan algoritma tetapi pada tangan pers yang masih percaya bahwa satu kalimat jujur lebih berharga dari pada seribu judul viral.
Cct: Selamat Hari Pers Tahun 2026.









