Oleh: Mohtar Umasugi
BIDIKFAKTA– Kabar menggembirakan datang dari ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku Utara. Kontingen Kabupaten Kepulauan Sula berhasil meraih 40 medali dari berbagai cabang olahraga yang dipertandingkan. Capaian ini tentu bukan sekadar angka, melainkan hasil dari kerja keras, disiplin, pengorbanan, dan semangat juang para atlet, pelatih, official, serta seluruh pengurus cabang olahraga yang berada di bawah koordinasi KONI Kabupaten Kepulauan Sula. Prestasi ini menunjukkan bahwa daerah yang secara geografis berada di wilayah kepulauan ternyata memiliki potensi sumber daya manusia yang mampu bersaing dan mengukir prestasi di tingkat provinsi.
Sebagai masyarakat Kepulauan Sula, kita patut bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kontingen yang telah mengharumkan nama daerah. Di tengah berbagai keterbatasan sarana, prasarana, dan pembinaan olahraga yang belum sepenuhnya ideal, para atlet tetap mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Prestasi tersebut membuktikan bahwa bakat dan potensi generasi muda Sula sesungguhnya tidak kalah dengan daerah lain di Maluku Utara.
Namun demikian, euforia kemenangan tidak boleh berhenti pada seremoni penyambutan, pemberian ucapan selamat, atau publikasi di media sosial semata. Ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab oleh pemerintah daerah, KONI, dan seluruh pemangku kepentingan olahraga bahwa apa yang akan terjadi setelah Porprov selesai?
Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa tidak sedikit atlet yang menjadi kebanggaan daerah saat bertanding, tetapi kemudian terlupakan setelah kompetisi berakhir. Mereka dielu-elukan ketika membawa pulang medali, namun minim perhatian ketika kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Kondisi inilah yang sering melahirkan ungkapan lama yang masih relevan hingga hari ini: “habis manis sepah dibuang” atau “kacang lupa kulitnya.”
Padahal, dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, atlet bukanlah investasi jangka pendek. Mereka adalah aset daerah yang harus dibina secara berkelanjutan. Medali yang diraih hari ini sesungguhnya merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan latihan bertahun-tahun, dukungan keluarga, pengorbanan ekonomi, dan ketekunan yang luar biasa. Jika perhatian terhadap mereka berhenti setelah Porprov, maka daerah sedang menyia-nyiakan investasi yang telah dibangun dengan susah payah.
Keberhasilan meraih 40 medali seharusnya menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula untuk menyusun kebijakan pembinaan olahraga yang lebih terarah dan berkelanjutan. Atlet-atlet berprestasi perlu mendapatkan penghargaan yang layak, baik dalam bentuk bonus, beasiswa pendidikan, jaminan pengembangan karier, maupun akses terhadap fasilitas latihan yang memadai. Lebih dari itu, perlu ada sistem pembinaan berjenjang yang mampu melahirkan atlet-atlet baru untuk masa depan.
Kita juga perlu menyadari bahwa olahraga bukan sekadar urusan prestasi. Olahraga merupakan instrumen pembangunan karakter, disiplin, sportivitas, dan kebanggaan daerah. Ketika seorang atlet berdiri di podium juara sambil membawa nama Kepulauan Sula, sesungguhnya yang sedang diangkat bukan hanya dirinya, tetapi juga martabat daerah yang diwakilinya.
Karena itu, keberhasilan kontingen Sula di Porprov V Maluku Utara harus dibaca sebagai pesan bahwa generasi muda Sula memiliki potensi besar jika diberikan ruang, perhatian, dan kesempatan yang memadai. Jangan sampai semangat mereka padam karena merasa hanya dibutuhkan saat kompetisi berlangsung.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma dari sekadar mengejar medali menjadi membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Prestasi 40 medali adalah kabar baik hari ini, tetapi perhatian terhadap para atlet adalah investasi untuk masa depan.
Pada akhirnya, penghargaan terbaik bagi para atlet bukan hanya tepuk tangan saat kemenangan diraih, melainkan komitmen nyata untuk terus mendampingi dan mengembangkan bakat mereka. Sebab daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu melahirkan juara, tetapi juga daerah yang mampu menghargai para pejuangnya setelah mereka turun dari podium kemenangan.
Jangan biarkan atlet-atlet Sula menjadi pahlawan musiman yang hanya dikenang saat membawa medali. Mereka adalah aset daerah yang harus dirawat, dibina, dan dihargai. Sebab tanpa perhatian yang berkelanjutan, prestasi hari ini hanya akan menjadi cerita, bukan tradisi.
