Membangun Perspektif, Menghindari Kecelakaan Berpikir

Oleh: Dr. Mohtar Umasugi., S.Ag., M.Pd.I

BIDIKFAKTA – Ba’da Ashar, saya dan keluarga duduk santai di taman mangon sambil menikmati suasana sore. Pandangan saya tertuju pada jalan raya yang berada tepat di depan taman. Mobil dan sepeda motor silih berganti melintas, sesekali terlihat pula pejalan kaki yang melewati jalan tersebut. Pemandangan yang tampak biasa saja, tetapi bagi saya, ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan dari aktivitas lalu lintas tersebut.

Bacaan Lainnya

Saya kemudian berpikir, setiap kendaraan yang melintas dan setiap pejalan kaki yang menggunakan jalan raya sesungguhnya memiliki tanggung jawab yang sama, yakni menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. Salah satu instrumen penting untuk mewujudkan keselamatan itu adalah memahami serta mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Rambu lalu lintas bukan sekadar simbol yang dipasang di pinggir jalan, melainkan petunjuk, peringatan, dan aturan yang harus dipahami oleh setiap pengguna jalan. Ketika pengendara memahami aturan, menghormati hak pengguna jalan lainnya, menjaga kecepatan, dan memperhatikan keselamatan, maka potensi kecelakaan dapat diminimalkan. Demikian pula pejalan kaki yang memahami aturan dan memperhatikan kondisi jalan ketika hendak menyeberang.

Sebaliknya, ketika seseorang mengabaikan rambu-rambu, tidak memahami aturan, atau merasa dirinya paling benar ketika menggunakan jalan raya, maka risiko kecelakaan akan semakin terbuka. Dari sini saya menemukan sebuah pemikiran sederhana, kecelakaan lalu lintas tidak selalu bermula dari persoalan kendaraan, tetapi dapat terjadi karena rendahnya kesadaran, pemahaman, dan kepatuhan terhadap aturan.

Perenungan tersebut kemudian membawa pikiran saya pada sebuah analogi tentang mindset atau pola pikir manusia dalam memahami berbagai persoalan kehidupan.

Menurut saya, konstruksi berpikir seseorang memiliki kemiripan dengan aktivitas pengguna jalan raya. Setiap individu memiliki latar belakang pendidikan, pengalaman, pengetahuan, lingkungan sosial, dan sudut pandang yang berbeda. Semua itu membentuk perspektif seseorang ketika membaca, memahami, dan memberikan penilaian terhadap suatu persoalan.

Persoalannya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membangun perspektif secara objektif dan proporsional. Ada orang yang terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, tetapi ada pula yang hanya menggunakan satu sudut pandang untuk menilai keseluruhan realitas. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih dahulu mengambil kesimpulan sebelum memahami fakta dan akar persoalan yang sesungguhnya.

Di sinilah saya melihat pentingnya membangun perspektif agar terhindar dari apa yang saya sebut sebagai kecelakaan berpikir.

Kecelakaan berpikir merupakan kondisi ketika seseorang keliru memahami informasi, salah menafsirkan fakta, mencampuradukkan asumsi dengan kenyataan, serta membangun kesimpulan berdasarkan prasangka dan kepentingan subjektif. Akibatnya, cara berpikir menjadi tidak proporsional, argumentasi kehilangan substansi, dan perbedaan pendapat justru berkembang menjadi pertentangan.

Dalam kehidupan sosial, organisasi, dunia akademik, bahkan dalam ruang pemerintahan, kecelakaan berpikir dapat menimbulkan persoalan yang lebih luas. Seseorang yang tidak mampu membedakan fakta dan persepsi berpotensi melahirkan penilaian yang keliru. Sementara seseorang yang menutup diri terhadap kritik dan pandangan berbeda akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan kualitas pemikirannya.

Kita perlu memahami bahwa melihat persoalan tidak cukup hanya dengan menggunakan mata, tetapi juga membutuhkan kejernihan pikiran dan keluasan wawasan. Sebab, apa yang terlihat belum tentu menggambarkan keseluruhan kenyataan. Apa yang didengar belum tentu sepenuhnya benar, dan apa yang dipikirkan belum tentu selalu sesuai dengan fakta.

Karena itu, membangun perspektif membutuhkan keberanian untuk membaca, mendengar, berdialog, melakukan kajian, dan menguji argumentasi. Kita harus membiasakan diri melihat persoalan secara komprehensif, bukan parsial. Jangan sampai perbedaan sudut pandang membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai kebenaran dan menerima kenyataan.

Bagi saya, kedewasaan berpikir bukan diukur dari seberapa keras seseorang mempertahankan pendapatnya, melainkan dari kemampuannya menguji pendapat tersebut secara rasional. Tidak ada salahnya berbeda pandangan, tetapi menjadi persoalan ketika perbedaan itu tidak disertai etika, argumentasi, dan kesediaan untuk saling memahami.

Akhirnya, dari sebuah sore sederhana di taman mangon, saya memperoleh satu pelajaran bahwa sebagaimana rambu-rambu lalu lintas menjadi pedoman bagi pengguna jalan untuk menghindari kecelakaan, ilmu pengetahuan, etika, logika, dan keterbukaan pikiran merupakan pedoman bagi manusia dalam menghindari kecelakaan berpikir.

Jangan terburu-buru menyimpulkan sebelum memahami persoalan. Jangan merasa paling benar sebelum menguji kebenaran. Dan jangan membangun penilaian hanya berdasarkan satu perspektif, sebab keluasan cara pandang merupakan bagian penting dari kedewasaan intelektual.

Sebab, persoalan terbesar manusia terkadang bukan karena tidak mampu berpikir, melainkan karena tidak bersedia memperluas cara berpikirnya.

 

Simak breaking news dan berita pilihan BIDIKFAKTA langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel Bidikfakta.id, dan pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Pos terkait