Sumpah Pemuda Sakral Versus Realitas Pemuda Rapuh

(Afirmasi Gagasan Jefri A Rette Sekawael)

OLEH : Arman Buton

Bacaan Lainnya
banner 728x90 banner 728x90

BIDIKFAKTA – Siang ini, di alun-alun taman Kota Bobong, Saya barusan baca artikel Jefri A Rette Sekawael, bertajuk, Pemuda di Persimpangan Zaman: Antara Sumpah dan Sungguh-sungguh, yang di terbitkan Bidikfakta, pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Sesudah, setelah saya baca artikel dimaksud, rasa-rasanya tangan dan otak tak bisa diam dalam menyimak saja. Dalam hati kecil, naluri untuk berada pada ruang intelek tak bisa dibendung. Saya kemudian memutuskan untuk berdamai, dan menulis.

Sejujurnya, artikel yang saya tulis adalah afirmasi untuk dapat terlibat langsung dalam percakapan intelektual, logika dan paradigma Jefry A Rette Sekawail, dalam artikelnya. Terlebih karena, Jefri adalah sahabat dekat juga. Dengan begitu, kita sama-sama bisa merefleksikan kekurangan kita, “pemuda saat ini”, serta apa yang ditulis pemuda, pada tanggal, 28 Oktober 1928, “kala itu”.

Dalam artikelnya, Jefri secara gamblang menggambarkan semangat sumpah pemuda, baik dalam persepektif historis, teoritik, maupun realitas kekinian. Kemudian secara teliti, Ia juga menjabarkan potret realitas pemuda yang terjadi hari ini.

Di dunia yang perkembangannya serba capat serta digitalisasi teknologi mutakhir moderen, pemuda lebih banyak mencari sensasi, ketimbang prestasi. Pemuda memilih viral tanpa karya, dari pada aksi-aksi nyata yang penuh resikonya.

Lewat teknologi digital pula, pemuda tak segan-segan mengendorse para korporasi dan penguasa. Entah apa motivasinya, namun jika bisa ditafsir, maka bisa dibilang hal ini seperti alibi belaka, semacam mencari sensasi, biar diakui (efek pemanfaatan materialistik).

Yang terjadi kemudian, demi untuk sebuah pengakuan, idialisme kini seolah-olah menjadi barang dagangan. Demikian, moralitas seperti bahan murahan untuk diobral. Sama halnya dengan integritas, bisa ditukar dengan ketaatan kepada tuan dan puan, “korporasi dan penguasa” pemegang tahta tertinggi.

Kurang lebih interaksi pemuda saat ini, respon terhadap korporasi dan penguasa, persis seperti cuplikan atraksi dalam cerita kartun; Tom dan Jerry, “diluar chaos, didalam saling berpelukan dan berciuman”.

Atau sama persis dengan sajian alur cerita cinta dalam serial drama Korea; “kita bikin romantis”, bahkan dalam situasi mencekam sekalipun.

Berbeda dengan pemuda tahan 1928. Kala itu, pemuda terlihat karismatik, sangar, kritis, idialis dan bermartabat. Tidak bertopeng dalam menyikapi kebenaran. Kejujuran dan integritas begitu mahal, jauh diatas segalanya. Militansi mereka terbentuk, tak kenal kompromi, apalagi kalau hanya untuk manut pada korporasi dan penguasa yang jalim. Tidak, tidak sama sekali.

Kalau kita bikin perbandingan antara catatan sejarah sumpah pemuda dahulu dan realitas saat ini, kita lalu menemukan fakta kalau ada perbedaan yang begitu mencolok.

Saya lalu berpikir, mungkin karena mereka, Jong Java, Jong Celebes dan Jong Ambon, lahir di zaman yang berbeda.

Mereka mungkin lahir ditengah-tengah konflik yang memanas atau kobaran perang? Atau mungkin, meraka begitu marah dengan segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan penjajah?

Mungkin dari cerita tragedi yang tragis tersebutlah, mereka lalu bisa meninggalkan kisah heroik untuk di kenang setiap tanggal 28 Oktober oleh generasi kita sekarang.

Filosofi bahwa, setiap generasi punya zaman, dan setiap jaman punya generasi adalah dialektika yang mengalir dalam pusaran waktu. Perbedaan generasi dan zaman memungkinkan pemuda sekarang berada pada sebuah dilema tanpa arah.

Apa yang dibilang Jefri, ada benarnya. Bahwa rapuhnya pemuda saat ini, penyebabnya karena kita tidak cukup tau makna sebenarnya dari sumpah pemuda itu sendiri. Ketidakpahaman tersebut membuat kita kehilangan nilai (volume). Nilai kemanusiaan, nelai kepedulian, nilai idialisme, nilai komitmen, nilai moral, dan nilai integritas.

Zaman beserta generasinya berubah, tetapi saya merasa, penjajahan dan penindasan itu masi nyata ada, tak berubah, hanya saja di kemas sedemikian rupa dalam bingkai yang berbeda.

Tak ada lagi perang fisik, tapi perang ekonomi, semisal; Sumber Daya Alam (SDA) dijarah korporasi atas izin penguasa, pajak membengkak, infrastruktur terbengkalai, korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela, pendidikan dan kesehatan tak bisa terjangkau oleh kelas ekonomi bawah.

Teknologi informatika memang berubah, tapi tidak dengan kesewenang-wenangan, ia masih terjadi secara masif, namun senyap. Justru yang berubah adalah respons pemuda terhadap ketidak sewenang-wenangan tersebut.

Sekali lagi, Jefri benar, bahwa yang dialami kita hari ini adalah kurangnya memaknai dasar dari sumpah pemuda. Akhirnya yang hilang adalah akal sehat, yang luntur adalah hati nurani.

Muhamad Natsir, dalam bukunya yang berjudul, Kapita Selekta, mengatakan; “maju mundur satu bangsa, satu daerah, dan satu negara, bukan dilihat dari warna kulit, garis keturunan, DPR yang banyak, atau Menteri yang berduit, tetapi dilihat dari sejauh mana, generasi mudanya memiliki kapasitas, kapabilitas intelektual, serta integritas dan pembangunan moral.

Rasa-rasanya, yang harus dibenahi kita adalah nilai (volume), sehingga tak mengalami defisit integritas. Dititik inilah, kita bisa tau jalan mana yang harus ditapaki. Dan, yang terpenting kita bisa meginsafi batasan etika dan ruang komunikasi dengan pemimpin yang lupa diri.**(AB)

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *