Kopi Pagi: Kisah Pilu Anak Negeri

Oleh: Mohtar Umasugi

BIDIKFAKTA – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering kali lupa bahwa setiap tindakan keserakahan hari ini adalah investasi kebodohan bagi generasi kita besok. Di warung kopi pagi ini, di antara aroma pahit robusta dan obrolan santai tentang harga bahan pokok yang kian melonjak, ada refleksi getir yang tak bisa dihindari: negeri ini sedang menyiapkan masa depan yang suram bagi anak-anaknya, bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena berlebihnya nafsu manusia dewasa ini.

Bacaan Lainnya
banner 728x90 banner 728x90

Keserakahan telah menjadi sistem nilai baru yang diam-diam kita wariskan. Dari ruang kekuasaan hingga sudut-sudut desa, dari pejabat hingga rakyat kecil, mental ingin cepat kaya tanpa kerja keras merasuki sendi-sendi kehidupan. Kita menjarah alam tanpa memikirkan keseimbangannya, memanipulasi anggaran publik tanpa merasa bersalah, dan memperlakukan pendidikan hanya sebagai formalitas tanpa ruh pengetahuan. Semua demi keuntungan sesaat yang menutup mata terhadap kerugian jangka panjang.

Padahal, seperti kata Mahatma Gandhi, “Bumi menyediakan cukup untuk kebutuhan semua manusia, tetapi tidak untuk keserakahan setiap manusia.” Maka dari itu, keserakahan bukan hanya dosa moral, tapi juga tindakan intelektual yang dungu karena ia menghancurkan dasar peradaban: keberlanjutan. Jika hari ini kita masih bangga menimbun kekayaan dari kebohongan, korupsi, dan eksploitasi, maka sebenarnya kita sedang menulis surat kemiskinan bagi anak cucu kita.

Lebih menyedihkan lagi, ketamakan itu sering dibungkus dengan narasi pembangunan dan kemajuan. Jalan-jalan dibangun, tetapi hutan ditebang habis. Gedung megah berdiri, tapi anak-anak di pelosok masih belajar di ruang bocor dan lantai tanah. Anggaran diklaim terserap penuh, tapi rakyat kecil tetap lapar dan sakit. Di sinilah ironi paling menyakitkan dari “anak negeri”: kita hidup di tanah kaya, tapi berpikir miskin; kita dikelilingi potensi besar, tapi terjerat oleh kerakusan kecil.

Dari sudut pandang sosial, keserakahan hari ini adalah akar dari kemiskinan struktural yang sulit diurai. Ia menciptakan kesenjangan ekonomi, menumbuhkan ketidakadilan sosial, dan menggerogoti moral publik. Dalam konteks pendidikan, ia melahirkan generasi yang terampil meniru tetapi kehilangan nurani berpikir. Mereka diajarkan mengejar jabatan, bukan kebijaksanaan; diajarkan meraih keuntungan, bukan makna pengabdian.

Kita lupa bahwa pembangunan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi gedung kita menjulang, melainkan seberapa dalam nilai-nilai kemanusiaan kita tertanam. Ketika nilai kejujuran, empati, dan tanggung jawab hilang dari ruang publik, maka sejatinya kita sedang membangun reruntuhan, bukan peradaban.

Kini, di antara tegukan kopi yang mulai dingin, saya hanya bisa merenung: bagaimana nasib anak negeri ini kelak jika kita terus membiarkan keserakahan menjadi pedoman hidup? Akankah mereka tumbuh dengan kebanggaan atau hanya mewarisi penyesalan?

Kisah pilu anak negeri bukan sekadar cerita tentang kemiskinan materi, melainkan tentang kebangkrutan moral orang tuanya. Jika hari ini kita tidak segera berhenti menjarah masa depan, maka besok, anak-anak kita hanya akan punya satu warisan: negeri yang miskin akal, miskin kasih, dan miskin harapan.

Mungkin sudah saatnya, di antara aroma kopi pagi yang getir ini, kita mulai menyesap secangkir kesadaran bahwa masa depan yang bijak hanya bisa lahir dari hati yang tidak tamak.

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *