BIDIKFAKTA – Dalam serial Siva, Ladu Sing bukan sekadar polisi, ia adalah puisi yang salah masuk profesi. Dengan langkah berat dan napas seperti angin yang tersesat di lorong-lorong birokrasi, ia mengejar penjahat bukan dengan kecepatan, tapi dengan harapan bahwa penjahat itu mungkin sedang lapar dan mau diajak makan dulu.
Ladu Sing percaya bahwa semua kasus dapat diselesaikan dengan tiga hal: 1. intuisi, 2. doa, dan 3. cemilan. Sayang sekali, dari ketiganya, hanya cemilan yang konsisten bekerja.
Jika ada jejak darah di lantai, ia mendekat dengan penuh kehati-hatian, seperti penyair mendekati judul puisi yang belum yakin. Setelah menatap lama, ia berkata.“Bisa jadi ini darah atau saus sambal. Kita panggil ahli kuliner dulu.”
Sebab itulah, jangan jadi polisi seperti Ladu Sing. Kecuali Anda siap dianggap sebagai metafora hidup tentang harapan yang salah alamat.
Berbicara tentang Ladu Sing dan Siva krakter dalam serial karton India ini Siva berjuang menyelamatkan dunia. Ladu Sing berjuang menyelamatkan perutnya.
Dua misi mulia, hanya saja bobot kepahlawanannya berbeda.
Bayangkan Ladu Sing dalam tugas, Penjahat lari ke kiri, Saksi lari ke kanan,
Ladu Sing? Lari ke warung depan, beli es teh.
Ketika Siva sedang memecahkan kode rahasia, Ladu Sing memecahkan kerupuk.
Ketika Siva menahan amarah masa lalu, Ladu Sing menahan kantuk setelah makan siang besar.
Jika dunia menggelar lomba polisi paling nyaris-berguna, ia mungkin tidak menang, tetapi nominasi “Polisi Paling Ikhlas Menyerah” pasti masuk kantong.
Jadi, tolong, jangan jadi polisi seperti Ladu Sing. Kecuali Anda suka tampil sebagai karakter comic relief setiap Anda berniat bekerja serius.
Serial Siva menampilkan dunia penuh intrik, kekacauan, dan dilema moral. Namun di tengah pusaran tragedi itu, muncul Ladu Sing, pria yang membawa semangat baru dalam dunia investigasi, semangat untuk tidak terburu-buru.
Ia percaya bahwa kejahatan tidak akan selesai jika kita tergesa-gesa. Bukti harus dinikmati pelan-pelan, seperti membaca karya sastra tebal. Alibinya pun dikaji dengan perenungan panjang biasanya sambil duduk, dengan secangkir teh, pada jam kerja, tanpa merasa bersalah.
Tidak ada yang salah dengan ketenangan, tetapi jika ketenangan itu memakan tiga episode hanya untuk memutuskan apakah sidik jari di gelas itu penting atau tidak ya, kita punya masalah.
Ladu Sing adalah lambang elegan dari birokrasi yang berjalan seperti kura-kura yang baru bangun tidur. Maka dari itu, demi efisiensi bangsa, jangan jadi polisi seperti Ladu Sing.
Selamat datang di dunia Siva, tempat semua tokoh penting berjuang keras kecuali satu.
Ya, Anda benar, Ladu Sing. Narator saja bahkan bingung kenapa dia masih digaji. Ketika adegan menuntut penyelidikan mendalam, Ladu Sing justru muncul memberi komentar-komentar yang tidak diminta.
“Menurut saya, penjahatnya pasti lapar. Semua orang jahat biasanya lapar.”
Kalau Siva adalah singa yang siap menerkam bahaya, Ladu Sing adalah kucing yang tidur di tengah jalan, berharap dunia menyesuaikan diri.
Penonton menunggu kontribusinya. Yang datang justru kontribusi kalori dari snack yang ia bawa ke TKP.
Penulis: A. Retorika.







