Luka Di Kepala, Obatnya Di Perut

Mohtar Umasugi, Akademisi,

Oleh: Mohtar Umasugi

BIDIKFAKTA – Kabupaten Kepulauan Sula hari ini ibarat sebuah rumah tua yang sering dicat ulang, tetapi retak dindingnya dibiarkan melebar. Atapnya bocor, tapi pemilik rumah lebih sibuk membeli lampu hias. Tamu mungkin terkesan ketika datang, tetapi penghuni rumah tetap kedinginan setiap malam.

Bacaan Lainnya
banner 728x90 banner 728x90

Begitulah pembangunan di Sula—ramai di permukaan, sepi di substansi. Yang diperbaiki adalah yang mudah difoto, bukan yang benar-benar dibutuhkan. Yang disiapkan adalah panggung, bukan pondasi.

Seperti warga yang mengeluh sakit kepala, tapi pemerintah malah sigap memberikan obat sakit perut. Obatnya memang ada, tetapi penyakitnya tetap tidak sembuh. Bahkan semakin kronis.

Ekonomi masyarakat Sula ibarat perahu tua yang bocornya makin banyak. Namun bukannya ditambal, perahu itu malah dicat dengan warna yang lebih cerah—agar terlihat baru saat difoto.

Sementara nelayan tetap berlayar dengan was-was, pedagang tetap mengeluh sepi pembeli, dan masyarakat tetap hidup dari hari ke hari tanpa kepastian.

Harga kebutuhan pokok naik-turun seperti ombak liar, tetapi yang sering dipamerkan pemerintah justru papan proyek dan pita pengguntingan. Rakyat membutuhkan tambalan pada perahu ekonominya, bukan cat baru.

Pendidikan di Sula seperti pohon yang daunnya sering dibersihkan untuk menyenangkan mata, tapi akarnya dibiarkan lemah.

Banyak anak belajar di ruang kelas yang lapuk, di sekolah dengan guru terbatas, tapi yang sering diutamakan adalah acara peluncuran program, seminar seremonial, dan dokumentasi kegiatan.

Anak-anak tidak membutuhkan kata-kata manis tentang masa depan. Mereka membutuhkan guru yang hadir, fasilitas yang lengkap, dan sistem yang memberi mereka kesempatan.

Kita sedang menyiapkan generasi yang diminta terbang tinggi, padahal sayapnya bahkan belum sempat tumbuh.

Kesehatan masyarakat seperti rumah sakit yang gedungnya diperbesar, tetapi isi ruangannya sama—bahkan terkadang lebih kosong dari sebelumnya.

Apa gunanya bangunan megah jika obat tetap langka? Apa gunanya seremoni kesehatan jika ibu hamil masih menunggu berjam-jam tanpa layanan? Apa gunanya rapat penurunan stunting jika dapur keluarga tetap kosong?

Stunting, gizi buruk, penyakit dasar—semua itu seperti luka lama yang hanya ditempeli plester baru, bukan diobati. Dan plester itu pun sering dilekatkan hanya ketika ada kamera.

Pembangunan di Sula telah berubah menjadi pertunjukan wayang yang megah. Boneka digerakkan indah, panggung disusun rapi, lampu bersinar terang—tetapi dalangnya tidak menggerakkan apa-apa bagi rakyat di belakang layar.

Yang dipentaskan adalah kemajuan, tetapi yang dirasakan masyarakat adalah stagnasi. Yang ditunjukkan adalah prestasi, tetapi yang dialami rakyat adalah ketimpangan.

Pemerintah sibuk menabuh gong kemenangan, padahal suara rakyat semakin sayup-sayup tidak terdengar.

Sula tidak membutuhkan pembangunan yang indah di baliho tetapi hampa di dapur rakyat. Kita tidak butuh lampu sorot, kita butuh listrik yang menyala untuk kehidupan. Kita tidak butuh seremoni, kita butuh solusi.

Sebab selama penyakit rakyat salah diobati, selama keluhan tidak didengarkan, selama kebutuhan diganti dengan simbolisme, maka kita akan terus menjadi kabupaten yang berdandan rapi tetapi tubuhnya sakit. Kita terus dibacakan puisi kemajuan, padahal kaki kita masih terjerat lumpur.

Dan selama keluhan sakit kepala terus dibalas dengan obat sakit perut, maka Sula hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama: indah dalam kata, sakit dalam kenyataan.

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *