Sula Di Persimpangan Makna

Mohtar Umasugi, Akademisi STAI Babusalam Sula. Istimewa.

Oleh: Mohtar Umasugi

BIDIKFAKTA – Pembangunan sejatinya bukan sekadar deretan angka dalam laporan kinerja, apalagi panggung seremonial yang ramai tepuk tangan dan baliho keberhasilan. Pembangunan adalah tentang rasa: apakah masyarakat merasa hidupnya lebih mudah, lebih layak, dan lebih bermartabat. Namun, di Kabupaten Kepulauan Sula, makna pembangunan justru berada di persimpangan yang membingungkan.

Bacaan Lainnya
banner 728x90 banner 728x90

Di satu sisi, pemerintah daerah tampak sibuk menggelar berbagai kegiatan seremonial. Peresmian ini, peluncuran itu, deklarasi capaian, hingga narasi sukses yang terus diproduksi melalui media dan ruang-ruang publik. Semua terlihat indah dari kejauhan. Namun di sisi lain, masyarakat masih berkutat dengan persoalan dasar yang tak kunjung terselesaikan: ekonomi stagnan, infrastruktur rusak, pelayanan kesehatan lambat, pendidikan belum bermutu, masalah air bersih, serta birokrasi yang kerap berbelit. Pertanyaannya sederhana: pembangunan yang mana yang sedang dirayakan?

Realitas paling nyata dapat dilihat di Pulau Mangoli. Di pulau yang menjadi salah satu urat nadi ekonomi Kabupaten Kepulauan Sula ini, pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan seolah tidak pernah benar-benar selesai. Proyek datang dan pergi, papan nama dipasang, anggaran dikabarkan terserap, tetapi kondisi di lapangan tetap sama: jalan rusak, jembatan terbengkalai, dan akses antarwilayah masih menyulitkan masyarakat.

Setiap tahun, masyarakat Mangoli mendengar janji kelanjutan pembangunan. Namun yang terjadi hanyalah pengulangan siklus: dikerjakan setengah hati, ditinggalkan, lalu muncul kembali sebagai proyek baru dengan narasi yang sama. Akibatnya, aktivitas ekonomi terhambat, biaya distribusi hasil pertanian dan perkebunan meningkat, serta mobilitas warga menjadi tidak efisien.

Ironisnya, kondisi ini berlangsung dalam diam. Tidak ada sense of crisis dari pemerintah daerah, seolah ketidakselesaian infrastruktur di Mangoli adalah hal biasa. Padahal, jalan dan jembatan bukan sekadar proyek fisik, melainkan denyut kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Fenomena di Mangoli mempertegas persoalan utama pembangunan di Kepulauan Sula: orientasi yang lebih menonjolkan citra dibanding dampak. Seremonial menjadi tujuan, bukan alat. Pita dipotong, spanduk dipasang, sambutan dibacakan, lalu selesai. Setelah itu, masyarakat kembali menghadapi jalan berlubang, jembatan rusak, dan akses yang terputus.

Pemerintah Daerah seolah berhasil membangun persepsi, tetapi gagal membangun kepercayaan. Padahal, kepercayaan publik lahir dari konsistensi dan keberlanjutan, bukan dari kemeriahan seremoni.

Jika ditelisik lebih jauh, hampir seluruh sektor pembangunan di Kepulauan Sula menghadapi persoalan serius. Di sektor ekonomi, perputaran uang lamban. Pasar tidak bergairah, daya beli menurun, dan lapangan kerja sangat terbatas. Di sektor pendidikan, mutu masih jauh dari harapan. Sarana prasarana terbatas dan akses pendidikan berkualitas belum merata.

Di sektor kesehatan, masyarakat kerap mengeluhkan lambannya pelayanan dan minimnya fasilitas, terutama di wilayah pulau-pulau. Semua ini menunjukkan bahwa pembangunan belum menyentuh akar persoalan, melainkan berhenti di permukaan.

Ketika pembangunan hanya dipahami sebagai proyek dan agenda tahunan, maka yang hilang adalah maknanya. Pembangunan tidak lagi berpijak pada kebutuhan riil masyarakat, melainkan pada kepentingan pencitraan kekuasaan. Jurang antara laporan pemerintah dan realitas masyarakat pun semakin lebar.

Pulau Mangoli adalah cermin dari problem struktural ini: pembangunan yang tidak tuntas, tidak berkelanjutan, dan tidak berorientasi pada manfaat jangka panjang.

Tulisan ini bukan sekadar kritik, melainkan pengingat. Pemerintah daerah perlu berani berhenti merayakan keberhasilan semu dan mulai menuntaskan pekerjaan rumah yang nyata. Jalan dan jembatan di Pulau Mangoli harus diselesaikan, bukan diwariskan sebagai masalah lintas periode.

Masyarakat Kepulauan Sula tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin pembangunan yang jujur, berkelanjutan, dan berpihak. Jika tidak, maka Sula akan terus berada di persimpangan makna: terlihat berjalan, tetapi sesungguhnya stagnan-sibuk merayakan, namun jauh dari kesejahteraan.

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *