BIDIKFAKTA — Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate periode 2025–2026 resmi dikukuhkan dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Auditorium Asrama Haji, Ternate Selatan, Senin (29/12/2025) malam. Agenda pengukuhan tersebut tidak sekadar menandai estafet kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum rekonsiliasi dan konsolidasi ideologis lintas kader HMI di Kota Ternate.
Mengusung tema “HMI Return; Rekonsiliasi Kepemimpinan, Bersinergi untuk Umat dan Bangsa”, kegiatan ini merefleksikan kesadaran historis sekaligus refleksi kritis atas dinamika internal organisasi serta tantangan eksternal yang kian kompleks. HMI dinilai perlu kembali pada khittah perjuangannya sebagai organisasi kader yang memiliki fungsi strategis dalam pembangunan kualitas umat dan bangsa.

Formateur Ketua Umum HMI Cabang Ternate, Yusril Buang, dalam sambutannya menegaskan bahwa dinamika organisasi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir telah menguras banyak energi, pikiran, dan waktu kader. Namun demikian, menurutnya, setiap proses perjuangan selalu mengandung hikmah yang harus dibaca secara dewasa dan bertanggung jawab.
“Sebagai pimpinan, kami memilih jalan rekonsiliasi kepemimpinan sebagai jalan terbaik. Ini bukan sekadar menyatukan struktur, tetapi menyatukan gagasan, orientasi, dan visi besar perjuangan HMI,” ujar Yusril.
Ia menekankan bahwa kader HMI Cabang Ternate tidak boleh terus-menerus terjebak dalam konflik internal yang berkepanjangan maupun rutinitas administratif dan simbolik semata. HMI, kata dia, harus tampil sebagai kekuatan intelektual, moral, dan sosial yang responsif terhadap persoalan rakyat, ketimpangan pembangunan, krisis lingkungan, serta problem keadilan sosial yang dihadapi masyarakat Maluku Utara.
Yusril juga menitipkan pesan moral kepada jajaran pengurus agar memperkuat tata kelola organisasi yang berorientasi pada kaderisasi berkelanjutan. Menurutnya, HMI Cabang Ternate selama ini cenderung menjauh dari khittah dan habitatnya sebagai organisasi kader yang berbasis intelektual.
“Efektivitas organisasi hanya dapat dicapai melalui sistem kerja yang rapi, kolektif, dan berbasis agenda strategis. Ke depan, HMI Cabang Ternate akan kami dorong menjadi organisasi yang tertib administrasi, kuat dalam kaderisasi, dan tajam dalam produksi gagasan,” tegasnya.
Sementara itu, Alnugransyah, yang mewakili sambutan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI, menegaskan bahwa HMI harus tetap berdiri sebagai organisasi independen yang berpihak pada nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan, serta tidak terjebak dalam kepentingan kekuasaan jangka pendek.
“HMI dilahirkan sebagai organisasi kader umat dan bangsa. Ia tidak boleh kehilangan daya kritisnya hanya karena kedekatan dengan kekuasaan. Dalam situasi krisis moral dan ketimpangan sosial seperti hari ini, HMI justru dituntut tampil sebagai penyeimbang dan pengoreksi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) bukan sekadar dokumen ideologis, melainkan sebagai metodologi berpikir dan etika gerakan yang menjiwai setiap agenda dan praksis organisasi.
Fungsionaris PB HMI tersebut turut menitipkan pesan moral kepada pengurus yang baru dilantik agar menjaga soliditas dan kebersamaan dalam perjuangan.
“Dalam perjuangan tidak boleh ada yang tertinggal. Kita harus bergerak bersama, saling menjaga, merawat, dan saling membesarkan,” tegas Alnugransyah.
Lebih lanjut, ia menilai langkah rekonsiliasi internal yang diusung kepengurusan baru sebagai pilihan strategis yang patut diapresiasi. Menurutnya, dinamika dalam organisasi merupakan keniscayaan, namun perbedaan pandangan tidak boleh menggerus soliditas dan tujuan besar perjuangan HMI.
“Rekonsiliasi bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya secara dewasa dan beradab. Kepemimpinan HMI Cabang Ternate hari ini harus mampu merangkul seluruh elemen kader tanpa kehilangan arah ideologis,” pungkasnya.







