BIDIKFAKTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengultimatum Iran untuk segera mencapai kesepakatan nuklir dalam waktu sekitar 10 hingga 15 hari atau menghadapi konsekuensi serius dari Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (19/2/2026) di tengah eskalasi ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, Jumat (20/2/26).
Trump mengatakan hasil perundingan akan ditentukan dalam sekitar 10 hari ke depan dan menegaskan Washington menginginkan kesepakatan yang “bermakna”. Ia bahkan memperingatkan Iran untuk melakukan kesepakatan, bila tidak hal-hal buruk akan terjadi.
Gambar; AS tengah mengunci Iran. Ultimatum kesepakatan nuklir.
Dalam keterangannya, Trump menyebut batas waktu maksimal sekitar 10–15 hari untuk tercapainya kesepakatan nuklir. Ia menegaskan apabila pihaknya tidak mendapat kesepakatan maka sesuatu yang tidak baik akan pecah di Timur Tengah dan Iran menjadi terget AS.
Pernyataan Donald Trump ini juga dibenarkan dalam sejumlah laporan bahwa ia tengah memperhitungkan Iran. Ultimatum ini disertai sinyal kemungkinan adanya langkah militer jika negosiasi gagal.
Bahkan ketegangan ini pun terus meningkat seiring adanya pengerahan kekuatan militer besar-besaran AS di kawasan Timur Tengah. Termasuk kapal induk, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar.
Namun, meskipun retorika konflik in memanas, diplomasi masih berjalan. Hal ini dikutip dari pernyataan James David Vance (JD Vance) Wakil Presiden Amerika bahwa pada putaran kedua pembicaraan pihaknya bersama Iran menunjukkan tanda positif walaupun garis merah utama AS belum terpenuhi.
Sementara itu, pejabat Iran sebelumnya juga mengindikasikan kemajuan negosiasi dan kesepakatan prinsip dasar dalam pertemuan di Jenewa belum lama ini.
Namun demikian, Trump menyebut Iran sebagai “titik panas saat ini” dan menilai perundingan nuklir dengan Teheran selama ini sulit mencapai hasil yang berarti.
Disisi lain, berdasarkan laporan media ketegangan geopolitik antara AS dan Iran ini telah meningkat sejak akhir 2025. AS saat ini meluapkan ambisi tegas, tak hanya retorika keras tetapi pengerahan militer, dan kekhawatiran konflik terbuka akan terjadi apabila diplomasi ditolak.







