Oleh: Mohtar Umasugi.
BIDIKFAKTA – Ramadhan selalu datang dengan wajah yang meneduhkan. Di Kabupaten Kepulauan Sula, kita menyaksikan pemandangan yang indah, pemerintah daerah, instansi vertikal, organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat hingga partai politik berlomba-lomba membagikan takjil gratis kepada warga.
Media lokal ramai memberitakan kegiatan itu. Foto-foto penuh senyum, paket makanan tersusun rapi, dan pengendara yang menerima dengan rasa syukur.
Sebagai masyarakat, tentu kita patut mengapresiasi niat baik tersebut. Berbagi di bulan suci adalah manifestasi nilai keimanan dan solidaritas sosial. Ia mencerminkan kepedulian, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Sula. Tidak ada yang keliru dari sedekah. Tidak ada yang salah dari kepedulian.
Namun Ramadhan juga mengajarkan kita untuk jujur melihat realitas. Di tengah ramainya pembagian takjil gratis, ada ironi yang pelan-pelan terasa di sudut-sudut lapak pedagang kue tradisional. Beberapa di antara mereka mengeluh karena dagangan tak habis terjual. Kue yang dibuat sejak pagi, dengan harapan membawa pulang keuntungan untuk kebutuhan rumah tangga, justru kembali ke rumah dalam kondisi tersisa. Ada yang terpaksa menjual dengan harga lebih murah menjelang magrib. Ada pula yang akhirnya membagikan secara cuma-cuma karena tak ada pembeli.
Pertanyaannya sederhana: apakah keramaian sore hari di Kota Sanana benar-benar mencerminkan perputaran ekonomi yang sehat?
Secara kasat mata, lalu lintas padat. Aktivitas meningkat. Tetapi daya beli tidak serta-merta ikut naik. Dalam situasi ekonomi yang sedang tertekan, pilihan masyarakat menjadi sangat rasional, jika ada yang gratis, maka itu yang diambil. Ini bukan soal mentalitas, melainkan soal kemampuan finansial.
Kita sedang menghadapi persoalan ekonomi yang lebih dalam. Harga kebutuhan pokok perlahan naik. Biaya hidup bertambah. Pendapatan masyarakat tidak bertumbuh signifikan. Dalam kondisi seperti ini, pembagian takjil gratis memang membantu sesaat, tetapi tidak menyentuh akar persoalan ekonomi lokal yang sedang melemah.
Ironisnya, pedagang kecil yang seharusnya mendapat berkah Ramadhan justru terdampak secara tidak langsung. Ketika distribusi takjil gratis dilakukan dalam skala besar tanpa melibatkan produksi pedagang lokal secara maksimal, maka ruang pasar mereka menyempit. Pasar menjadi jenuh, pembeli berkurang, dan omzet menurun.
Di sinilah letak analisis kritisnya.
Ekonomi daerah tidak cukup digerakkan oleh seremoni sosial. Ia membutuhkan desain kebijakan yang terstruktur. Jika pemerintah daerah, instansi, organisasi pemuda, maupun partai politik ingin berbagi, maka pendekatannya bisa lebih produktif: membeli takjil dalam jumlah besar dari pedagang lokal, melibatkan UMKM kecil sebagai mitra utama, atau membuat program subsidi bahan baku selama Ramadhan. Dengan begitu, sedekah berjalan, ekonomi pun berputar.
Karena sesungguhnya, inflasi tidak selalu terasa dalam angka statistik. Ia terasa dalam keluhan pedagang yang dagangannya tak laku. Ia terasa dalam wajah cemas ibu rumah tangga yang menghitung pengeluaran. Ia terasa dalam sepinya transaksi di pasar tradisional.
Saya melihat fenomena ini sebagai alarm kecil bagi kita semua. Sula membutuhkan lebih dari sekadar aksi berbagi yang viral di media sosial. Kita membutuhkan kebijakan ekonomi yang menyentuh substansi, penguatan daya beli masyarakat, stabilisasi harga, perlindungan pedagang kecil, dan penciptaan ruang usaha yang sehat.
Ramadhan adalah bulan empati. Empati bukan hanya tentang memberi makanan menjelang berbuka, tetapi tentang memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk membeli dan berdagang secara bermartabat. Empati bukan sekadar membagikan paket, tetapi membangun sistem ekonomi yang adil.
Takjil gratis adalah simbol kebaikan. Tetapi ekonomi yang kuat adalah simbol keadilan. Jika keduanya bisa berjalan beriringan, maka Ramadhan benar-benar menjadi berkah bagi semua, bukan hanya bagi penerima, tetapi juga bagi para pedagang kecil yang menggantungkan harapan pada setiap sore menjelang magrib.
Semoga Ramadhan ini tidak hanya meninggalkan jejak foto kegiatan sosial, tetapi juga kesadaran kolektif untuk memperkuat fondasi ekonomi Sula agar lebih tahan terhadap inflasi dan lebih berpihak pada rakyat kecil.





