OLEH: Mohtar Umasugi
BIDIKFAKTA – Memasuki babak delapan besar perebutan trofi bergilir Bupati Cup di Lapangan Kampis Sanana, atmosfer kompetisi semakin menegang. Euforia suporter meningkat, gengsi antar tim menguat, dan ekspektasi publik berada pada titik yang sangat tinggi. Dalam fase krusial ini, sorotan publik tidak hanya tertuju pada pemain dan strategi pelatih, tetapi juga pada tim wasit yang memimpin jalannya pertandingan.
Wasit memegang peran sentral sebagai penentu keadilan di lapangan. Setiap peluit yang ditiup dan setiap keputusan yang diambil akan selalu dibaca, ditafsirkan, bahkan diperdebatkan oleh publik. Karena itu, harapan masyarakat sangat jelas: netralitas wasit harus dijaga sepenuhnya. Netral bukan sekadar tidak memihak, tetapi juga mampu menunjukkan sikap adil yang dapat dirasakan oleh semua pihak yang bertanding.
Bupati Hj. Fifian Adeninsi Mus Saat Meresmikan Bupati Cup III Sula. Istimewa.
Persoalan yang kerap muncul dalam kompetisi lokal bukan hanya soal salah atau benar sebuah keputusan, melainkan ketika keputusan tersebut melahirkan multi tafsir. Ketika pelanggaran dianggap tebang pilih, atau keputusan kartu dan gol dinilai inkonsisten, ruang kecurigaan pun terbuka. Di titik inilah kepercayaan publik terhadap turnamen bisa tergerus, dan pertandingan yang seharusnya menjadi ajang prestasi justru berubah menjadi panggung kontroversi.
Dalam konteks sosial masyarakat Kepulauan Sula, sepak bola memiliki dimensi emosional yang kuat. Ia menjadi simbol kebanggaan kampung, desa, bahkan identitas kolektif. Oleh karena itu, keputusan wasit yang dianggap tidak netral tidak berhenti sebagai persoalan teknis, tetapi dapat menjalar menjadi kegaduhan sosial. Menjaga kepercayaan publik berarti menjaga stabilitas emosi kolektif masyarakat pencinta sepak bola.
Netralitas wasit menuntut keberanian untuk berdiri di atas aturan, tanpa tunduk pada tekanan suporter, relasi personal, maupun kepentingan apa pun di luar lapangan. Keputusan boleh saja tidak menyenangkan satu pihak, tetapi harus dapat diterima secara rasional oleh semua pihak karena diambil secara adil dan konsisten.
Bupati Cup sejatinya adalah ruang pembuktian prestasi, tempat lahirnya pemain-pemain berbakat daerah, dan sarana memperkuat sportivitas. Ketika keadilan ditegakkan di lapangan, apa pun hasil pertandingan akan diterima sebagai bagian dari kompetisi yang sehat. Sebaliknya, ketika netralitas diabaikan, kemenangan pun kehilangan maknanya.
Akhirnya, harapan publik sangat sederhana namun fundamental, jadikan Bupati Cup sebagai ajang prestasi, bukan panggung kontroversi. Dengan wasit yang netral dan dipercaya, sepak bola akan kembali pada hakikatnya sebagai permainan yang menyatukan, bukan memecah.










