Oleh : Hairun Yusup
BIDIKFAKTA – Dunia saat ini kembali menyaksikan meningkatnya ketegangan dan konflik di kawasan Timur Tengah. Perseteruan politik, konflik militer, serta perebutan pengaruh geopolitik terus membentuk dinamika kawasan tersebut. Situasi ini menunjukkan bahwa Timur Tengah masih menjadi salah satu wilayah paling sensitif dalam percaturan politik global. Dalam kondisi seperti ini, penting bagi kita untuk kembali melihat paradigma nasionalisme sebagai salah satu cara memahami dan merespons gejolak yang terjadi.
Nasionalisme pada dasarnya lahir dari keinginan suatu bangsa untuk mempertahankan kedaulatan, identitas, dan kepentingan nasionalnya. Dalam banyak kasus, nasionalisme menjadi kekuatan yang mampu membangkitkan semangat perjuangan sebuah bangsa untuk merdeka dari penjajahan atau dominasi kekuatan asing. Namun dalam perkembangan politik modern, nasionalisme juga sering kali digunakan sebagai alat legitimasi dalam konflik politik dan militer.
Gejolak di Timur Tengah memperlihatkan bagaimana nasionalisme dapat memainkan dua peran sekaligus.
Di satu sisi, nasionalisme menjadi simbol perlawanan terhadap intervensi atau dominasi kekuatan luar. Di sisi lain, nasionalisme juga dapat memicu rivalitas antarnegara ketika kepentingan nasional masing-masing negara saling bertabrakan. Persaingan pengaruh, perbedaan ideologi politik, serta kepentingan ekonomi sering kali memperkuat ketegangan yang sudah ada.
Dalam konteks ini, pemikiran tokoh-tokoh nasionalis dunia seperti Sukarno memberikan perspektif penting tentang bagaimana nasionalisme seharusnya dipahami. Bung Karno menekankan bahwa nasionalisme tidak boleh berdiri sendiri tanpa nilai kemanusiaan. Ia memperkenalkan gagasan bahwa nasionalisme harus berjalan bersama dengan internasionalisme, yaitu solidaritas antarbangsa untuk menciptakan perdamaian dunia.
Paradigma ini menjadi sangat relevan ketika melihat konflik di Timur Tengah. Nasionalisme yang hanya berorientasi pada kekuatan dan dominasi dapat memperpanjang konflik. Sebaliknya, nasionalisme yang dibangun di atas nilai kemanusiaan dan solidaritas internasional dapat membuka ruang bagi dialog dan penyelesaian konflik secara damai.
Bagi generasi muda, terutama mahasiswa, memahami paradigma nasionalisme dalam konteks global menjadi hal yang sangat penting. Dunia saat ini tidak lagi terpisah oleh batas geografis yang kaku. Konflik di satu kawasan dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan di berbagai belahan dunia.
Oleh karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari komunitas intelektual harus mampu melihat dinamika global dengan perspektif yang lebih luas dan kritis.
Menghadapi gejolak Timur Tengah, dunia memerlukan pendekatan baru yang tidak hanya mengedepankan kekuatan militer, tetapi juga diplomasi, dialog, dan solidaritas kemanusiaan.
Paradigma nasionalisme yang inklusif—seperti yang pernah digagas oleh Bung Karno—dapat menjadi salah satu inspirasi untuk membangun hubungan antarbangsa yang lebih adil dan damai.
Pada akhirnya, melihat kembali paradigma nasionalisme bukan berarti kembali pada romantisme masa lalu. Sebaliknya, hal ini merupakan upaya untuk menemukan kembali nilai-nilai dasar yang dapat membantu dunia menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam dunia yang penuh gejolak seperti saat ini, nasionalisme yang berakar pada kemanusiaan dan keadilan mungkin menjadi salah satu jalan menuju perdamaian yang lebih berkelanjutan.

