BIDIKFAKTA – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Maluku Utara, melalui mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan Integratif (KKLI) Angkatan VIII menggelar Dialog Publik bertema “Merawat Jejak Leluhur, Menjaga Warisan, Menguatkan Jati Diri di Waigoiyofa” sekaligus menginisiasi pembentukan Sanggar Penjaga Budaya di Desa Waigoiyofa, Kecamatan Sulabesi Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Senin (15/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pertemuan Desa Waigoiyofa itu menghadirkan civitas akademika STAI Babussalam Sula, tokoh adat, pemerintah desa, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sula, serta masyarakat setempat. Dialog publik tersebut menjadi ruang bersama untuk membahas pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya dan sejarah yang diwariskan para leluhur.
Ketua STAI Babussalam Sula, Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa generasi masa kini memiliki tanggung jawab moral untuk menggali, mendokumentasikan, dan menjaga warisan budaya di tengah masyarakat, khususnya di Desa Waigoiyofa saat ini agar tetap hidup.
Menurutnya, tradisi dan budaya yang ada di Desa Waigoiyofa merupakan identitas yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Apalagi masuknya budaya luar, kata dia, dapat menjadi tantangan apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran kolektif untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun ini untuk dijaga.
“Tradisi dan budaya di Desa Waigoiyofa ini apabila tidak digali dan dijaga, perlahan akan terkikis oleh waktu dan zaman. Masyarakat perlu memperkuat kesadaran untuk menjaga identitas budaya ini agar tidak lekang,” ujar Sahrul di hadapan peserta dialog.
Ia juga mendorong agar tradisi, sejarah, dan kebudayaan di Waigoiyofa ditulis dan dibukukan melalui riset serta kajian ilmiah yang terstruktur. Langkah tersebut dinilai penting agar warisan budaya tersebut didokumentasikan secara ilmiah dan akademik sehinga dapata diwariskan kepada para generasi secara bertanggungjawab.
“Dokumentasi ilmiah menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya. Dengan penelitian dan penulisan yang komprehensif, generasi mendatang akan memiliki referensi yang jelas untuk memahami dan melestarikan identitas dan budaya di Desa Waigoiyofa kelak,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Waigoiyofa, Gairil Basahona, menyampaikan apresiasi atas inisiatif STAI Babussalam Sula yang menjadikan desanya sebagai pusat kegiatan pelestarian budaya melalui dialog publik dan pembentukan sanggar budaya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa bersama masyarakat siap mendukung berbagai upaya penelitian dan pengembangan program pelestarian budaya yang dapat memperkuat identitas Waigoiyofa sebagai salah satu wilayah yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai adat ini agar dibukukan.
“Kami menyambut baik dan mendukung penuh langkah STAI Babussalam Sula dalam membentuk Sanggar Penjaga Budaya di Desa Waigoiyofa. Kami berharap tradisi dan budaya yang diwariskan para leluhur dapat terus dirawat, dijaga, dan diwariskan kepada generasi kami berikutnya,” kata Gairil.
Dalam kesempatan itu, Gairil juga menyampaikan terima kasih kepada para sesepuh Desa Waigoiyofa, yakni Drs. H. Abd. Muluk Duwila dan H. Isra Sibela, S.Ag., M.Pd.I., perwakilan Dinas Pariwisata Kepulauan Sula, narasumber utama Dr. Sahrul Takim, serta mahasiswa KKLI STAI Babussalam Sula yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, pembentukan Sanggar Penjaga Budaya menjadi langkah awal yang strategis dalam menjaga keberlangsungan tradisi Fagud dan berbagai warisan budaya lainnya yang selama ini menjadi identitas masyarakat Waigoiyofa atau yang dikenal sebagai Kampung Fagud Matua.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat dalam kegiatan serupa terus dilaksanakan. Ini menjadi fondasi awal bagi pihaknya dan upaya pelestarian budaya ini semoga sukses sehingga dapat diwariskan dari generasi ke generasi yang ada di Desa Waigoiyofa kedepannya.






