BIDIKFAKTA – Amat terlalu banyak negeri ini telah tapaki demonstrasi sebagai luapan aspirasi, bukan untuk sekedar menyampaikan pikiran dan keberanian sebagai pemuda.
Soe Hok Gie, barangkali juga masuk dalam daftar pemikir muda revolusioner pada masanya. Catatan Seorang Demonstran, adalah salah satu karya ilmiah yang ditulis beragam dari pikiran, tindakan dan aksi nyata seorang Gie pada masanya saat berjas aktivis 1960 di peralihan rezim Orde Lama ke Orde Baru.
Mahasiswa Jurusan Sejarah pada Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Gie, tak hanya dicap sebagai pelajar akademik. Ia juga dicap sebagai pemberontak, pelopor yang menentang kebijakan diktator Presiden Soekarno dan melawan habis-habisan instrumen pemerintahan Presiden Soeharto di masa Orde Baru.
Namun, pikiran panjang Gie tentang Catatan Seorang Demonstran. Kian berubah menjadi penghianatan.
Bagi Sok Hok Gie, mahasiswa tidak cukup hanya turun ke jalan berdemonstrasi karena ingin terlihat berani. Kita turun ke jalan karena terlalu banyak ketidakadilan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan diam.
Pandangan Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, ia menuliskan bahwa demonstrasi bukan sekadar teriakan, atau kepalan tangan di udara. Tetapi, demosntrasi adalah cara rakyat mengingatkan kekuasaan bahwa jabatan bukan milik pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Saya percaya, kritik bukanlah kebencian. Menyampaikan kebenaran bukan berarti memusuhi pemerintah. Justru mereka yang berani mengkritik ketika banyak orang memilih diam sedang menjalankan kewajiban moral sebagai warga negara. (Gie)*.
Di buku Gie itu, ada satu kalimat yang menahok yakni; di negeri ini, yang berbahaya bukan hanya penguasa yang menyalahgunakan kekuasaan. Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai terbiasa melihat ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, ketika kepentingan rakyat kalah oleh kepentingan segelintir orang, ketika suara kritis dianggap sebagai ancaman, maka di situlah demokrasi mulai kehilangan maknanya.
Kata Gie, seorang demonstran tidak boleh menjadi alat kepentingan siapa pun. Ia harus berdiri di atas kepentingan rakyat, kebenaran, dan keadilan. Sebab perjuangan yang dibayar oleh kepentingan akan kehilangan keberaniannya untuk berkata benar.
Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengeluh. Kita membutuhkan orang-orang yang berani bertanya; ke mana uang rakyat digunakan? Siapa yang menikmati kebijakan? Mengapa hukum tidak ditegakkan secara adil? Dan mengapa suara rakyat sering baru didengar setelah jalanan dipenuhi massa?
Saya tidak takut kepada kekuasaan. Yang saya takutkan adalah ketika masyarakat kehilangan keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan. Sebab kekuasaan tanpa kritik mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan. Dan masyarakat tanpa keberanian akan menjadi penonton di tengah ketidakadilan yang terjadi di depan mata.
Mungkin seorang demonstran tidak selalu memenangkan tuntutan hari ini. Tetapi sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang. Sejarah juga mencatat siapa yang memilih berdiri ketika yang lain memilih diam.
Karena pada akhirnya, perjuangan bukan tentang siapa yang paling keras berteriak. Perjuangan adalah tentang siapa yang tetap berdiri ketika kebenaran sedang membutuhkan keberanian.
Penulis: Damar Leko, Pelajar Kelas 12 SMKN 1 Sula dan Pengurus GSNI.








