Oleh: Dr. Mohtar Umasugi ( Koordinator Presidium MD KAHMI Kabupaten Kepulauan Sula )
BIDIKFAKTA – Dari sebuah ruang sederhana di Waibak Coffee, 24 September 2026, sebuah percakapan penting tentang masa depan bangsa berlangsung. Momentum tersebut dirangkaikan dengan peringatan Milad KAHMI ke-60 tahun dan dialog publik yang mengangkat persoalan narkoba, generasi muda, serta berbagai tantangan kehidupan sosial dan lingkungan.
Dialog publik menghadirkan Kepala BNN Provinsi Maluku Utara, Brigjen Pol. Mirsal Alwi, S.I.K., yang membahas dampak narkoba bagi generasi muda, serta Sosiolog UMMU, Dr. Herman Oesman, S.Sos., M.Si., yang memberikan perspektif sosiologis mengenai kehidupan masyarakat dan persoalan ekologi.
Bagi saya, dialog ini bukan sekadar agenda seremonial memperingati hari lahir KAHMI. Lebih dari itu, ia menjadi ruang refleksi tentang makna tema “KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa.”
Kedaulatan bangsa tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan negara mempertahankan wilayah dan batas teritorial. Kedaulatan juga menyangkut kemampuan bangsa menjaga manusia, terutama generasi mudanya, dari berbagai ancaman yang dapat menghancurkan masa depan. Dan Narkoba adalah salah satu ancaman tersebut.
Ketika narkoba masuk ke dalam lingkungan generasi muda, yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan individu. Yang terancam adalah kualitas sumber daya manusia, ketahanan keluarga, produktivitas masyarakat, bahkan masa depan pembangunan daerah dan bangsa.
Karena itu, perang terhadap narkoba tidak boleh berhenti pada kegiatan razia dan penindakan. Kita perlu memutus mata rantai dan ekosistemnya: dari produksi, masuknya barang, distribusi, peredaran, penjualan hingga konsumsi. Pada saat yang sama, keluarga, sekolah, kampus, organisasi kepemudaan, tokoh agama dan masyarakat harus menjadi bagian dari sistem pencegahan.
Di sinilah KAHMI memiliki ruang pengabdian yang sangat besar. KAHMI bukan sekadar tempat berkumpulnya para alumni HMI. KAHMI adalah rumah besar alumni yang memiliki pengalaman intelektual, jejaring sosial, kekuatan moral, serta kapasitas profesional yang dapat dikonversi menjadi energi pengabdian bagi masyarakat.
Tema kedaulatan bangsa harus diterjemahkan menjadi kerja nyata. KAHMI harus hadir membaca persoalan masyarakat, menyampaikan kritik berbasis data, menawarkan solusi, sekaligus menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.
Kemitraan dengan pemerintah penting, tetapi kemitraan tidak berarti kehilangan sikap kritis. KAHMI harus tetap independen. Ketika kebijakan pemerintah berpihak kepada kepentingan rakyat, KAHMI perlu memberikan dukungan. Tetapi ketika terdapat kebijakan atau praktik pembangunan yang perlu dikritisi, KAHMI juga harus berani menyampaikan kritik secara konstruktif dan solutif.
Sebab pembangunan tidak hanya berbicara tentang anggaran dan proyek. Pembangunan berbicara tentang manusia dan keberlanjutan kehidupan.
Karena itu, pembicaraan mengenai narkoba dan generasi muda perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas, termasuk persoalan ekologi. Kerusakan lingkungan pada akhirnya juga merupakan ancaman terhadap kehidupan manusia. Alam yang rusak akan melahirkan persoalan ekonomi, kesehatan, sosial dan bahkan konflik di tengah masyarakat.
Apa yang disampaikan Dr. Herman Oesman mengingatkan kita bahwa masyarakat tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat mereka hidup. Ekologi bukan sekadar urusan lingkungan hidup, tetapi bagian dari keberlangsungan peradaban.
Dari Sula, kita belajar bahwa kedaulatan bangsa harus dimulai dari kedaulatan masyarakat atas masa depannya sendiri: generasi mudanya terlindungi, lingkungannya terjaga, pendidikannya berkembang, ekonominya tumbuh dan pemerintahannya bekerja untuk kepentingan publik.
Milad KAHMI ke-60 seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat tersebut. Enam dekade perjalanan KAHMI harus melahirkan refleksi bahwa alumni HMI tidak pernah benar-benar pensiun dari perjuangan. Peran berubah, ruang pengabdian berubah, tetapi tanggung jawab sosial tetap melekat.
Dari Waibak Coffee, percakapan kecil itu semoga menjadi energi besar. Dari Sula, suara tentang kedaulatan bangsa harus terus disuarakan. Karena menjaga Indonesia tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan. Ia dapat dimulai dari ruang-ruang sederhana, dari keberanian berbicara, dari kepedulian terhadap generasi muda, dari menjaga lingkungan, dan dari keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Terima kasih kepada para narasumber, Kapolres Kepulauan Sula dan Kajari Kepulauan Sula yang telah hadir dan memberikan perhatian terhadap dialog ini. Terima kasih pula kepada Ketua DPRD dan Pemerintah Daerah Kepulauan Sula, para alumni HMI, Presidium dan Pengurus MD KAHMI, HMI Cabang Sanana, seluruh kader HMI, serta terutama panitia pelaksana atas kerja sama, dedikasi dan loyalitas sehingga rangkaian Milad KAHMI ke-60 dapat terlaksana dengan baik.
” KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa ” bukan hanya tema sebuah peringatan. Ia adalah panggilan moral agar alumni HMI terus hadir dalam persoalan bangsa, menjaga generasi, merawat kehidupan dan mengawal pembangunan.
Selamat Milad KAHMI ke-60 Tahun
KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa.
Dari Sula untuk Indonesia.
Yakin Usaha Sampai.








