BIDIKFAKTA – Kepulauan Sula, Maluku Utara, memiliki potensi perikanan tuna yang besar. Catatan historis menyebut potensi produksi tuna di wilayah perairan ini pernah mencapai sekitar 450 ribu ton per tahun, Jumat (6/11/26).
Namun, besarnya potensi laut tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan volume tuna yang berhasil didaratkan dan dipasarkan oleh nelayan lokal.
Secara riil, hasil tangkapan tuna dari Kepulauan Sula yang masuk ke fasilitas pengolahan dan jalur perdagangan masih berada pada kisaran puluhan hingga ratusan ton per tahun. Salah satu penyebabnya adalah berbagai kendala operasional yang dihadapi nelayan, terutama akses terhadap BBM.
Sejumlah perusahaan pengolahan ikan di Kepulauan Sula diketahui menyerap hasil tangkapan nelayan lokal. Salah satunya, PT Harta Samudra, yang disebut memiliki kapasitas memasok produk tuna loin hingga puluhan ton per tahun.
Selain itu, terdapat sejumlah perusahaan dan pengepul lain yang turut menyerap hasil tangkapan nelayan, seperti PT Mitra Tuna Mandiri, Maluku For Tuna, Kumira, serta unit pengolahan ikan lainnya.
Namun, tidak seluruh hasil tangkapan nelayan tercatat sebagai ekspor langsung dari Kepulauan Sula. Sebagian tuna dari Sanana justru dikirim sebagai bahan baku ke Unit Pengolahan Ikan di daerah lain, termasuk Ambon dan Ternate.
Jenis tangkapan yang dominan berasal dari perairan Sula adalah tuna sirip kuning atau yellowfin tuna (madidihang) dan cakalang (skipjack). Tuna yang masuk ke fasilitas pengolahan disebut memiliki ukuran rata-rata sekitar 45 hingga 65 kilogram per ekor.
Di tengah besarnya potensi perikanan, nelayan tuna di Kepulauan Sula malah menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan BBM bersubsidi.
Nelayan tradisional, khususnya pengguna metode pancing ulur atau handline, membutuhkan solar untuk menjangkau daerah tangkap yang semakin jauh mengikuti jalur migrasi ikan tuna.
Persoalan pasokan BBM yang terbatas, membuat frekuensi melaut ikut berkurang. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap volume ikan yang berhasil didaratkan para nelayan di Sanana.
Selain persoalan BBM, nelayan juga menghadapi dugaan gangguan jalur tangkap akibat keberadaan rumpon dari kapal-kapal luar daerah. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi jalur migrasi tuna menuju wilayah tangkap nelayan tradisional.
Dari data yang dihimpun, potensi besar perikanan ini belum maksimal. Maluku Utara dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam industri perikanan tuna nasional. Dan, Kepulauan Sula berada di kawasan yang terhubung dengan sejumlah Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) strategis.
Potensi besar tersebut membuka peluang bagi peningkatan produksi, industri pengolahan, hingga ekspor hasil perikanan. Namun, peningkatan produksi tuna di Kepulauan Sula dinilai sangat bergantung pada penyelesaian sejumlah persoalan mendasar, mulai dari kepastian pasokan BBM untuk nelayan, pengawasan wilayah tangkap, hingga penguatan fasilitas pendaratan dan pengolahan ikan.
Tak adanya, dukungan infrastruktur dan kebijakan yang tepat, kekayaan tuna di laut Kepulauan Sula dinilai belum memberikan nilai ekonomi besar bagi nelayan lokal dan daerah.
Dan kini, tantangannya bukan lagi sekadar soal besarnya potensi ikan di laut Sula. Melainkan bagaimana memastikan potensi tersebut benar-benar dapat ditangkap, didaratkan, diolah, dan memberikan kesejahteraan bagi para nelayan di Kepulauan Sula.







