Oleh: Mohtar Umasugi.
BIDIKFAKTA – Artikel ini dapat dibaca sebagai kritik sosial sekaligus refleksi intelektual yang mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa dan aktivis, untuk keluar dari jebakan budaya instan, konsumtif, dan ketergantungan menuju budaya berpikir merdeka, produktif, kritis, kreatif, objektif, dan inovatif.
Ada satu keresahan yang belakangan ini semakin sering mengganggu pikiran saya. Keresahan itu bukan semata-mata tentang kondisi ekonomi, politik, atau pembangunan daerah. Keresahan saya justru berangkat dari sesuatu yang lebih mendasar, yakni perubahan orientasi berpikir masyarakat yang semakin cenderung instan dan konsumtif dibandingkan independen dan produktif.
Keresahan ini mungkin terdengar sederhana. Namun jika ditelusuri lebih jauh, persoalan tersebut sesungguhnya memiliki dampak yang sangat besar terhadap masa depan masyarakat, terutama generasi muda, mahasiswa, dan para aktivis yang seharusnya menjadi motor perubahan sosial.
Saya melihat semakin banyak orang yang lebih senang menjadi penikmat daripada pencipta. Lebih suka menerima daripada menghasilkan. Lebih tertarik menikmati hasil daripada bersusah payah menciptakan proses. Dalam banyak aspek kehidupan, orientasi berpikir seperti ini telah berkembang menjadi budaya yang tanpa disadari membentuk karakter sosial kita.
Budaya instan melahirkan mentalitas jalan pintas. Segala sesuatu diukur dari seberapa cepat hasil diperoleh, bukan dari kualitas proses yang dijalani. Akibatnya, kerja keras, ketekunan, kreativitas, dan inovasi sering kali dianggap tidak lagi penting dibandingkan kemampuan memperoleh keuntungan secara cepat.
Fenomena ini dapat kita lihat hampir di semua sektor kehidupan. Dalam dunia pendidikan, tidak sedikit mahasiswa yang lebih fokus mengejar ijazah daripada membangun kapasitas intelektual. Dalam dunia politik, banyak orang lebih tertarik pada manfaat sesaat daripada memperjuangkan gagasan dan nilai-nilai perubahan. Dalam dunia ekonomi, sebagian masyarakat lebih memilih menunggu bantuan dibandingkan menciptakan peluang usaha yang produktif.
Kondisi tersebut melahirkan satu persoalan yang lebih serius, yaitu ketergantungan. Ketika masyarakat lebih banyak mengonsumsi daripada memproduksi, maka ketergantungan ekonomi akan semakin besar. Ketika masyarakat lebih suka menerima daripada memperjuangkan gagasan sendiri, maka ketergantungan politik akan semakin kuat.
Ketergantungan ekonomi membuat seseorang kehilangan keberanian untuk mengambil risiko dan berinovasi. Sementara ketergantungan politik membuat seseorang kehilangan kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat.
Dalam situasi seperti itu, muncul rasa takut yang perlahan-lahan menggerogoti keberanian masyarakat. Takut berbeda pendapat. Takut mengkritik. Takut menyampaikan kebenaran. Takut kehilangan akses ekonomi maupun politik.
Padahal sejarah peradaban menunjukkan bahwa kemajuan selalu lahir dari keberanian berpikir merdeka. Kemajuan tidak pernah lahir dari masyarakat yang hanya menjadi pengikut. Kemajuan lahir dari mereka yang berani mempertanyakan keadaan, menawarkan alternatif, dan menciptakan perubahan.
Di sinilah saya melihat adanya ancaman yang cukup serius. Ketika budaya konsumtif semakin menguat, maka kemampuan berpikir kritis perlahan mulai terkikis. Ketika masyarakat terlalu bergantung pada pihak lain, maka kreativitas akan melemah. Ketika orientasi hidup hanya berfokus pada apa yang bisa diterima hari ini, maka inovasi untuk masa depan akan kehilangan ruang tumbuh.
Akibatnya, lahirlah generasi yang kurang terbiasa berpikir objektif. Penilaian terhadap suatu persoalan tidak lagi didasarkan pada fakta dan argumentasi, melainkan pada kepentingan sesaat. Kebenaran sering kali ditentukan oleh kedekatan, bukan oleh data. Rasionalitas dikalahkan oleh pragmatisme. Fenomena ini sesungguhnya sangat berbahaya bagi kehidupan demokrasi dan pembangunan.
Demokrasi membutuhkan warga negara yang kritis. Pembangunan membutuhkan masyarakat yang kreatif. Kemajuan ekonomi membutuhkan individu yang inovatif. Sedangkan masyarakat yang terlalu konsumtif cenderung kehilangan semua prasyarat tersebut.
Mahasiswa dan aktivis memiliki tanggung jawab moral untuk membaca situasi ini secara jernih. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan besar. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi pelaku perubahan. Aktivis tidak boleh sekadar sibuk dalam rutinitas organisasi, melainkan harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Tradisi intelektual harus dihidupkan kembali. Budaya membaca harus diperkuat. Diskusi-diskusi kritis harus diperbanyak. Keberanian menyampaikan pendapat harus terus dipelihara. Sebab tanpa itu semua, kita akan kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara objektif dan mencari jalan keluar secara kreatif.
Saya percaya bahwa masyarakat Kepulauan Sula memiliki potensi besar untuk berkembang. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, kekayaan budaya yang luar biasa, serta generasi muda yang cerdas dan energik. Namun semua potensi itu tidak akan berarti apabila orientasi berpikir kita masih terjebak dalam budaya konsumtif dan ketergantungan.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma.
Kita harus mulai membangun budaya produktif daripada konsumtif. Budaya mencipta daripada sekadar menikmati. Budaya mandiri daripada bergantung. Budaya berpikir daripada sekadar mengikuti.
Karena sesungguhnya ukuran kemajuan suatu masyarakat bukan terletak pada seberapa banyak yang mereka nikmati, melainkan pada seberapa besar yang mereka ciptakan.
Keresahan ini saya tuliskan bukan untuk menghakimi siapa pun. Tulisan ini adalah bentuk refleksi sekaligus ajakan bagi kita semua untuk melakukan evaluasi bersama. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil yang tumbuh dalam pikiran manusia.
Jika hari ini kita masih lebih suka menjadi penikmat, maka masa depan akan terus ditentukan oleh orang lain. Namun jika kita mulai belajar menjadi pencipta, maka masa depan itu akan berada di tangan kita sendiri. Dan saya percaya, perubahan itu masih mungkin dimulai dari sekarang.







