Sanana, Kota Empat Soa!

Potret Kota Sanana - Kepulauan Sula, Maluku Utara. (Foto/istimewa).

Oleh: Tim Bidikfakta.id.

BIDIKFAKTA – Sanana adalah luka yang terus bercerita. Ia tua bukan karena usianya, tetapi karena sejarahnya penuh air mata dan kebesaran yang kini diabaikan begitu saja.

Bacaan Lainnya

Ada empat soa, Fagud, Fatce, Fa’ahu, dan Mangon. Empat soa ini, bukan sekadar nama di papan kelurahan tetapi urat nadi leluhur yang sejak dahulu mengatur langkah negeri ini jauh sebelum peta administratif menggusur adat dan birokrasi melupakan jejak sejarah.

Dulu di pesisir, ombak tahu siapa yang memimpin. Kepala soa berdiri tak dengan jas, tetapi dengan hikmat, wibawa, dan sabda. Mereka tak perlu gelar akademik, karena mereka menyimpan ilmu yang tak ditulis di buku negara, tapi diwariskan lewat tutur, di bawah cahaya lampu pelita dan suara tifa.

Kini, Sanana menjadi kota yang berdandan,
tetapi lupa cermin asal-usulnya. Gedung pemerintah ditinggikan, namun akar adat dipangkas perlahan dengan alasan modernitas.

Kita lupa bahwa, empat soa adalah roh kolektif masyarakat Sula dan hari ini hanya dijadikan simbol seremoni. Karena itu, kelak kota ini hanya akan dihuni nama-nama kosong yang tak tahu siapa moyangnya, dan dari mana pijakan tanahnya.

Sanana bukan tentang kota kecil. Ada adat dan silsilah, dibangun dari dalam ingatan tentang ritual, dari penghormatan kepada soa-soa, dan dari bahasa yang dicetus oleh anak-anak sekolah.

Sanana adalah puisi panjang dan empat soa adalah bait-bait pertamanya. Jika bait itu hilang, puisi ini tak akan bisa dimengerti.

Bahwa ini bukan sekadar nostalgia tetapi seruan agar pembangunan jangan butakan sejarah. Agar setiap tiang bangunan mencatat nama tetua dan bahwa setiap pemimpin paham mereka berdiri di atas tanah yang dijaga oleh sumpah tua. (**).

banner 728x90

Pos terkait

banner 728x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *